Wednesday, August 4, 2010

Kapal Perang AL Singapura Merapat di Surabaya

RSS Tenacious. (Foto: Australia DoD)

05 Agustus 2010, Surabaya -- Dua kapal perang Angkatan Laut Singapura (Republic Singapore Navy) merapat di Dermaga Gapura Surya, Tanjung Perak, Surabaya, Selasa.

Kepala Sub-Dinas Penerangan Umum Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Mayor Laut Kariono di Surabaya mengatakan, kedatangan dua kapal perang, yakni RSS Tenacious dan RSS Vigour itu, untuk diikutsertakan dalam latihan bersama yang digelar TNI-AL dan RSN.

Kedua kapal perang itu di bawah komando Wakil Kepala Staf RSN Kolonel SG Son. Begitu merapat dan bersandar di Dermaga Gapura Surya, para tamu dari RSN itu disambut Komandan Satgas Latihan Bersama "Ex-Eagle 21/10" Kolonel Laut (P) Dadi Hartanto.

"Latihan bersama ini sudah digelar sebanyak 21 kali," kata Dadi yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Satuan Patroli Koarmatim.

Latihan tersebut digelar di tiga tempat, yakni di Singapura, Laut Jawa dan markas Koarmatim di Surabaya.

Selain kedua kapal perang tersebut, RSN juga mengirimkan satu unit pesawat F50-MPA, sedangkan di TNI-AL mengerahkan KRI Hasanuddin-366, KRI Fatahilah-361 dan satu unit pesawat jenis Cassa.

"Pembukaan latihan ini berlangsung pada 28 Juli lalu dengan meninjau fasilitas pangkalan RSN di Changi Naval Base dan melaksanakan Eagle Cup I di tempat yang sama di Singapura," katanya.

Kemudian pada tahap manuver lapangan dilaksanakan di sekitar perairan Selat Singapura, Laut Jawa dan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).

Untuk tahap akhir dilaksanakan pada 3-5 Agustus 2010 di Koarmatim Surabaya dengan rangkaian kegiatan, meliputi "Courtesy Call", "Community Services", "Eagle Cup II", pengkajian ulang dan penutupan.

Kariono menambahkan, selama ini Eagle 21/10" terbukti saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, baik dari segi teknis maupun taktis matra laut.

"Latihan ini juga memberikan dampak positif di masa yang akan datang guna membina dan meningkatkan hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Singapura," katanya.

Sasaran yang ingin dicapai dalam latihan itu, di antaranya, meningkatkan hubungan antarkedua negara, terutama armada laut dalam memantapkan keamanan regional.
Selain itu, latihan bersama tersebut diharapkan dapat meningkatkan koordinasi dan kerja sama taktis antarunsur angkatan laut kedua negara.

Materi latihan bersama itu, meliputi kemampuan mengaplikasikan dan mengembangkan doktrin, taktik, dan prosedur operasi Laut.

Kemampuan mengaplikasikan prosedur "Maritime Interdiction Operation" (MIO) terhadap kapal-kapal yang dicurigai dan kerja sama taktis dalam melaksanakan "Search and Rescue" (SAR) juga turut diaplikasikan dalam program latihan itu.

ANTARA Jatim

Asrena KSAL dan Pangarmatim Terima Brevet Satkopaska

anglima Armada Timur Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto (kiri) mendapat ucapan selamat dari Angkatan Laut Amerika usai penyematan Brevet US Navy Seals dalam latihan bersama (Latma) dengan sandi "Flash Iron 10-2 JECT 2010" di Pangkalan TNI AL Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (4/8). Latma Kopaska TNI AL dengan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy Seals) dengan penghancuran teroris yang menguasai kapal ferri di perairan selat Bali.(Foto: ANTARA/Seno S./pd/10)

05 Agustus 2010, Banyuwangi -- Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muda TNI Among Margono dan Panglima Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto, menjadi warga kehormatan Kopaska TNI AL dan "US Navy Seals" di Pangkalan TNI AL Banyuwangi, Rabu malam.

Penerimaan kedua perwira tinggi Angkatan Laut (AL) tersebut sebagai warga kehormatan Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) dan US Navy Seals itu ditandai dengan penyematanan "Brevet" yang dilakukan secara bergantian oleh Komandan Satkopaska, Letkol laut Pelaut Yeheskiel. K, dan Komandan US Navy Seals dalam latihan bersama TNI AL, Lievtenant Commander Arthur Castiglia.

Sebelum menerima Brevet, Asrena KSAL Laksamana Muda TNI Among Margono dengan didampingi Pangarmatim Laksamana Muda Bambang Suwarto, sempat memimpin simulasi penyergapan Kapal Feri Pottre Koneng yang sedang disandera kelompok teroris.

Dengan bantuan tim udara yang seluruhnya anggota Satkopaska TNI AL serta dua unit tim laut gabungan Satkopaska TNI AL bersama US Navy Seals, penyergapan kapal

Pottre Koneng dilakukan tepat di ajungan Pangkalan Angkatan Laut Banyuwangi.

Assisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal Laksamana Muda TNI Among Margono(kanan berdiri) menaiki kendaraan anti teror Cheetha usai saat laihan bersama (Latma) dengan sandi "Flash Iron 10-2 JECT 2010" di Pangkalan TNI AL Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (4/8). (Foto: ANTARA/Seno S./pd/10)

Panglima Armada Timur Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto (kiri), Assisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal Laksamana Muda TNI Among Margono dipanggul prajurit satuan komando pasukan katak. (Foto: ANTARA/Seno S./pd/10)

Beberapa personil satuan komando pasukan katak TNI AL menaiki lambung Kapal Ferri. (Foto: ANTARA/Seno S./pd/10)

Jadwal penyergapan sempat molor, yang sebelumnya akan dilakukan pukul 15.00 WIB, namun baru terlaksana pukul 18.00 WIB. Penyergapan berlangsung cepat diawali dari tim udara yang menggunakan helikopter jenis BELL yang melakukan manuver dengan meluncur menggunakan tali ("fast rooping') ke bagian anjungan kapal feri yang disandera kelompok teroris. Tidak lama kemudian giliran dua dua unit kapal cepat ("sea ridder") yang melakukan "ship boarding" dibagian lambung kapal feri Pottre Koneng.

Setelah itu terdengarlah baku tembak diatas kapal feri yang disandera kelompok teroris. Selain terdengar bunyi tembakan silih berganti, terdengar beberpa kali bunyi ledakan sebagai gambaran betapa tegangnya adegan penyergapan tersebut.

Hampir selama 15 menit terjadi baku tembak, suasana kembali tenang disusl teriakan Margono yang menyatakan kelompok teroris telah berhasil dilumpuhkan serta menguasai keamanan kapal feri yang disandera tersebut.

Margono seusai acara penyematan Beveret, menjelaskan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan bersama US Navy Seals merupakan perwujudan kerjasama diantara kedua angkatan laut yang pada tahun ini mengambil tajuk "Latma Flash Iron 10-2 Joint Combined Exercise Trainning (JECT) 2010".

Latihan bersama antara TNI AL dengan US Navy Seals sendiri sudah berlangsung sejak 12 Juli hingga 5 Agustus 2010. Adapun materi selama latihan bersama itu antara lain, Latihan Praktek VBSS, latihan pembebasan kapal feri yang sedang dibajak di peraiaran Selat Bali dan Urban Warfare, yakni latihan peperangan dalam kota disimulasikan Pangkalan AL (Lanal) dikuasai musuh dan tim Satkopaska berhasil merebut kembali.

Menurut Margono, kerja sama antara TNI AL dengan US Navy Seals yang sudah berjalan selama 30 tahun ini telah menguntungkan bagi kedua belah pihak sehingga diharapkan mampu berdampak positif di masa yang akan datang guna membina serta meningkatkan hubungan diplomatis antara Indonesia dengan Amerika Serikat.

ANTARA Jatim

Tuesday, August 3, 2010

Kontrak Persenjataan Domestik Diperpanjang


03 Agustus 2010, Jakarta -- Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, penandatanganan kontrak pengadaan alat utama sistem senjata TNI dan Polri dari dalam negeri diperpanjang hingga akhir tahun.

"Kita beri waktu hingga akhir tahun," katanya ketika di konfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa, menjawab mengenai batas akhir penandatanganan kontrak pengadaan alat utama sistem senjata TNI dan Polri dari dalam negeri yang berakhir 20 Juni 2010.

Menurut dia, jika ada pengadaan peralatan utama TNI yang sudah dapat ditandatangani kontraknya sebelum akhir tahun, hal itu akan segera ditindaklanjuti.

Ia mengatakan, sebagai komitmen pemerintah untuk memberdayakan industri pertahanan dalam negeri maka pihaknya telah menyiapkan daftar belanja peralatan utama sistem persenjataan TNI dan Polri yang tertuang dalam 13 kontrak dengan dana yang disiapkan Rp 800 miliar.

"Dana tersebut diambil dari APBN 2010 sebagai bentuk komitmen kami untuk mendukung pemberdayaan atau revitalisasi industri pertahanan dalam negeri," kata ujar Sjafrie.

Ia menambahkan, 13 kontrak pengadaan peralatan itu dari dalam negeri meliputi persenjataan ringan dan menengah yang telah dapat diproduksi industri pertahanan nasional.

"Secara rinci, jenisnya apa saya tidak tahu. Tetapi kira-kira secara umum meliputi persenjataan ringan dan menengah," kata Sjafrie.

ANTARA News

Monday, August 2, 2010

Panglima Divif 2 Kostrad Periksa Kesiapan Satgasla PPRC


02 Agustus 2010, Surabaya -- Panglima Divif 2 Kostrad Mayor Jenderal TNI Geerhan Lantara memeriksa kesiapan gelar lapangan 1 Kompi Korps Marinir TNI AL yang tergabung dalam Satuan Tugas Laut (Satgasla) Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI Tahun 2010 di Dermaga Koarmatim Ujung Surabaya, Senin (2/8).

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Staf Koarmatim Laksamana Pertama TNI Arief Rudianto, para Asisten Pangarmatim, Komandan Satuan Kapal, dan Komandan Unsur Koarmatim. Dalam amanat Panglima Divif 2 Kostrad mengatakan, bahwa satuan PPRC TNI merupakan Komando Tugas Gabungan TNI yang dibentuk khusus dan berkedudukan langsung dibawah Panglima TNI, dengan tugas pokok melaksanakan tindakan cepat terhadap ancaman nyata di wilayah darat tertentu, dalam rangka menangkal, menyanggah awal dan menghancurkan musuh atau lawan yang mengganggu kedaulatan NKRI.

“Untuk itu, Satuan PPRC TNI mengemban tugas tanggung jawab yang sangat strategis, sehingga melekat prinsip-prinsip pelaksanaan tugas yang cepat, tepat dan singkat. Cepat dalam mnuver atau gerakan, tepat menentukan sasaran, serta singkat dalam proses dan waktu yang dibutuhkan,”tegas Panglima Divif 2 Kostrad.

Dispenarmatim

Boeing P-8A Poseidon Aircraft T3 Enters Flight Test


2 August 2010, SEATTLE -- Boeing [NYSE: BA] P-8A Poseidon aircraft T3 successfully completed its first flight test in Seattle on July 29. T3 is the P-8A program's mission-system and weapon-certification aircraft.

During the two-hour and 48-minute flight from Boeing Field, Boeing and U.S. Navy test pilots performed airborne systems checks including engine accelerations and decelerations, autopilot flight modes, and auxiliary power unit and engine shutdowns and starts.

In the coming weeks, T3 will join the two P-8A test aircraft currently at Naval Air Station Patuxent River, Md., and complete additional ground and flight tests.

"At Pax River, the Boeing and Navy team will use some of the ground test data we've gathered in Seattle for in-flight separation and delivery accuracy tests that will occur later this year," said Chris Ahsmann, P-8A chief engineer for Boeing.

T3 is one of six flight-test aircraft that are being assembled and tested as part of the U.S. Navy System Development and Demonstration contract Boeing received in 2004. Airworthiness-test aircraft T1 entered flight test in October 2009 and arrived at the Navy's Patuxent River facility in April of this year. T2, the primary mission-system test aircraft, arrived at Pax River in June.

The Navy plans to purchase 117 P-8A anti-submarine warfare, anti-surface warfare, intelligence, surveillance and reconnaissance aircraft to replace its P-3 fleet. Initial operational capability is planned for 2013.

A unit of The Boeing Company, Boeing Defense, Space & Security is one of the world's largest defense, space and security businesses specializing in innovative and capabilities-driven customer solutions, and the world's largest and most versatile manufacturer of military aircraft. Headquartered in St. Louis, Boeing Defense, Space & Security is a $34 billion business with 68,000 employees worldwide.

Boeing Company

Sunday, August 1, 2010

Kopaska TNI AL “Serbu” Teroris di Kapal Ferry


30 Juli 2010, Surabaya -- Pagi itu, Jumat (30/7), dua Tim Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL dengan menggunakan kendaraan tempur air “Sea Reader” berhasil menyerbu masuk (ship boarding) ke kapal Ferry Wicitra yang dikuasai “teroris”.

Kapal yang sarat dengan penumpang tersebut seketika itu terasa mencekam, dan semua penumpang merasa was-was bakal terjadi ensiden berdarah. Tidak lama kemudian, penyerangan ke kapal ini menjadi semakin tegang dan berdebar, ketika satu Tim prajurit Kopaska TNI AL ini melakukan fastroping (meluncur) dari Helikopter kemudian menyerbu ke kapal.

Dalam sekejap, prajurit elit TNI AL ini dapat menguasai ruangan-ruangan vital di kapal yang dikuasai musuh, yaitu di ruang mesin, ruang kemudi dan anjungan. Dalam “serbuan” tersebut, prajurit Kopaska TNI AL dapat meringkus kawanan teroris dan dalam ensiden ini tidak ada korban jiwa dari penumpang kapal.

Skenario serbuan ke kapal Ferry yang dilakukan oleh prajurit Kopaska TNI AL tersebut, adalah serangkaian dari materi latihan yang digelar antara TNI AL dengan Angkatan Laut Amerika Serikat dari jajaran US Navy Seal dengan sandi “Latma Flash Iron 10-2/JCET, dan latihannya itu sendiri digelar mulai 12 Juli silam. Pasukan yang terlibat dalam latihan itu dari Kopaska TNI AL 92 personel sedangkan dari pihak US Navy Seal 19 personel.

Latihan yang digelar hingga 5 Agustus tersebut akan melaksanakan beberapa materi latihan diantaranya pengamanan VVIP, materi lain yang juga dilatihkan diantaranya MIO (Martime Interdiction Operation), Markmanship and Skills, CQC (Closed Quarter Combat), Urban Warfare dan TCCE (Tactical Combat Casualiv Care).

Dispenarmatim

Lockheed Martin Manufactures and Delivers 1,000th Decoy Payload for Ship Self-Defense System

30 July 2010, MARION, Mass. -- Lockheed Martin [NYSE: LMT] has manufactured and delivered the 1,000th payload for the Nulka decoy program, a joint effort between the U.S. and Royal Australian navies that uses a hovering decoy to lead an incoming missile away from a ship.

Nulka is an integral part of a ship’s layered defense system against incoming missile threats. It is installed on several classes of U.S. Navy and Canadian navy ships, as well as on every Australian surface combatant.

“This joint effort has yielded extraordinary benefit and has fostered an exceptional spirit of cooperation between the U.S. and Australian navies,” says Ed Settle, the U.S. Navy’s program manager for the Joint U.S. / Australia MK 53 (Nulka) decoy program.

Lockheed Martin has worked with BAE Systems Australia, the Nulka decoy prime contractor, since 1994. The payloads are manufactured by Lockheed Martin in Marion, Mass., and the decoys are assembled by BAE Systems in Australia.

“Our commitment to Nulka goes beyond the investments we’ve made in this program over the years,” says Donna Edwards, Lockheed Martin’s Nulka program manager. “We know that every payload we manufacture must perform flawlessly to help keep our sailors safe.”

Headquartered in Bethesda, Md., Lockheed Martin is a global security company that employs about 136,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation’s 2009 sales from continuing operations were $44.5 billion.

Lockheed Martin