Monday, May 2, 2011

Pasukan TNI Lumpuhkan Empat Perompak Somalia

MV Sinar Kudus. (Foto: tribun news)

2 Mei 2011, Jakarta (MI.com): Militer Indonesia melumpuhkan empat dari 35 perompak Somalia yang membajak kapal MV Sinar Kudus pada Minggu (1/5).

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Laksamana Muda (Laksda) Iskandar Sitompul mengatakan hal tersebut saat ditemui di Jakarta, Senin (2/5). Data intelijen yang diterima TNI menyebutkan 20 anak buah kapal (ABK) WNI Sinar Kudus terpencar sehingga sempat menghambat upaya militer.

"Menurut data intelijen, ABK yang disandera tidak dikumpulkan di satu tempat melainkan terpencar-pencar. Sehingga, jika operasi militer menyelamatkan sebagian sandera, sebagian lainnya terancam keselamatannya," ujar Iskandar yang menambahkan posisi kapal milik PT Samudera Indonesia (SI) itu telah turun jangkar di dekat pantai Somalia dan menyulitkan operasi militer.

Lebih jauh, Iskandar menekankan setelah uang tebusan dari PT SI dijatuhkan menggunakan helikopter, satu per satu perompak mulai meninggalkan kapal kargo dengan speedboat. Begitu rombongan perompak terakhir meninggalkan kapal, TNI menguasai kapal dan memastikan keselamatan ABK yang dipimpin Kapten Slamet Juari.

"Setelah kapal Sinar Kudus tidak ada perompak, rombongan perompak terakhir yang terdiri dari empat orang akhirnya dilumpuhkan TNI saat mereka menuju ke darat," sambung Iskandar.

Kapal Sinar Kudus pada awal Maret lalu mengangkut bijih nikel milik PT Aneka Tambang (Antam) dari Sulawesi menuju Rotterdam, Belanda. Sejak 16 Maret, kapal yang tengah melewati Laut Arab dihadang perompak berjumlah 35 orang dengan senjata AK-47. Setelah 46 hari, PT SI pada Minggu (1/5) akhirnya mengonfirmasi pembebasan sandera dengan mekanisme uang tebusan.

Perompak Somalia yang semula menuntut US$2,6 juta (sekitar Rp23 miliar) kemudian naik ke US$3,5 juta, melunak. Mereka menyetujui penurunan jumlah tebusan sampai US$3 juta dengan catatan harus segera ada pernyataan. Kendati demikian, detik-detik kepastian pembayaran tebusan sempat diwarnai kejengkelan para perompak. Pada Jumat (15/3) pada pukul 11.00 waktu Somalia (15.00 WIB), PT SI mengirim pernyataan kesanggupan membayar tebusan sebesar US$2,8 juta.

Padahal, PT SI awalnya menyatakan sepakat atas tuntutan US$3 juta dari bajak laut. Mohamed Salah dkk jengkel dan langsung menaikkan uang tebusan menjadi US$3,050 juta.

Kantor berita Reuters mengabarkan Sinar Kudus dibebaskan dengan uang senilai US$4,5 juta (Rp38 miliar) melalui helikopter. Kendati demikian, pihak PT SI menampik kabar jumlah tebusan yang beredar di media massa.

Sumber: MI.com

Sunday, May 1, 2011

FPDA Gelar Latma Bersama Shield 2011 di Malaysia

F/A-18F Super Hornet. (Foto: ADF)

2 Mei 2011, Canberra (Berita HanKam): Lima negara anggota Five Power Defence Arrangement (FPDA) mengelar latihan bersama Bersama Shield 2011 (BS11) di sejumlah lokasi di Semanjung Malaysia dan Laut Cina Selatan, 2-13 Mei.

Tujuan latma BS11 meningkatkan interoperability kekuatan udara, laut dan darat dari negara FPDA guna meningkatkan keamanan regional, termasuk pertahanan Singapura dan Malaysia. FPDA terdiri dari Australia, Inggris, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura, telah berusia 40 tahun pada tahun ini.

BS11 melibatkan 9 frigate, satu kapal selam serta 46 jet tempur dari lima negara FPDA.

Australia menyertakan enam jet tempur F/A-18F Super Hornet dari Skuadron 1, dua frigate kelas ANZAC HMS Ballarat dan Parramatta serta satu kapal selam kelas Collin HMAS Dechaineux.

Sumber: ADF
Berita HanKam

Mengapa Militer Batalkan Aksi Pembebasan Awak Sinar Kudus

Direktur Samudera Indonesia (SI) Group Asmari Herry (kiri) berbicara bersama Deputy Presiden Director Samudera Indonesia (SI) Group David Batubara (tengah) dan Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamada Muda Iskandar Sitompul (kanan) di kantor Samudera Indonesia Group, Jakarta, Minggu (1/5).S ejumlah 20 awak kapal Sinar Kudus dinyatakan bebas dari pembajakan perompak Somalia setelah 46 hari disandera di perairan sekitar Somalia. (Foto: ANTARA/Rosa Panggabean/ama/11)

2 Mei 2011, Jakarta (TEMPO Interaktif): Bajak laut Somalia telah membebaskan 20 awak kapal MV Sinar Kudus yang disandera sejak 16 Maret lalu setelah mereka menerima tebusan lebih dari Rp 38,5 miliar. Sebenarnya, TNI telah bersiap untuk melakukan penyerbuan. Tapi, kemudian rencana itu dibatalkan.

Menurut Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul Sinar Kudus dibebaskan melalui proses negosiasi pada pukul 06.00 WIB, menyusul keputusan pembatalan operasi militer. Menurut dia, operasi militer dibatalkan karena kapal lanun yang berada di El Daman menjauh dari posisi TNI, yang berada di Pelabuhan Kolombo, Sri Lanka. "Saat itu kami mau menyergap, tapi perompak menjauh menuju perairan Somalia," ujarnya.

Aksi militer berikutnya dibatalkan lagi lantaran para sandera tidak dikumpulkan di satu tempat. Menurut dia, di Sinar Kudus hanya ada tiga sandera sehingga percuma menyerbu ke kapal.

Alasan pembatalan lainnya, kata Iskandar, karena ada permintaan dari keluarga awak kapal, yakni Listiana dari Makassar dan Yuanita dari Kediri. Mereka mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar tidak menggunakan cara militer dalam pembebasan sandera. "Ikatan Nakhoda Niaga Seluruh Indonesia juga tidak mau. Mereka juga kirim surat," kata dia.

Karena itulah akhirnya dipilih opsi menyerahkan uang tebusan. Penyerahan uang tebusan tidak dikawal oleh tentara. "Tapi di dalam tim sudah ada intelijen," ujarnya saat mendampingi David. Namun Iskandar menolak menyebutkan lokasi penyerahan uang tebusan. (Inilah Kronologi Pembebasan Sandera)

Setelah dibebaskan, kapal milik PT Samudera Indonesia Tbk itu akan melanjutkan perjalanan menuju Rotterdam, Belanda. Menurut David, Sinar Kudus mengangkut feronikel 800 ribu ton milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dari Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Sekretaris Perusahaan PT Antam, Bimo Budi Satrio, mengatakan nilai feronikel tersebut lebih dari Rp 500 miliar. Bimo tidak terlampau khawatir akan keberadaan feronikel tersebut. "Sudah kami asuransikan," ujarnya saat dihubungi Minggu, 1 Mei 2011.

Mengenai uang tebusan yang dibayarkan kepada para pembajak, kata Bimo, PT Antam bersedia membantu. "Itu akan kami bicarakan besok (Senin 2 Mei 2011 ini)," kata dia.

Wakil Direktur Utama PT Samudera Indonesia Tbk David Batubara mengatakan kapal itu telah dikuasai oleh TNI Angkatan Laut sejak pukul 13.10 waktu Somalia kemarin. Ia mengatakan para sandera dalam keadaan sehat.

"Saat ini kapal bergerak meninggalkan perairan Somalia menuju pelabuhan terdekat," kata David dalam jumpa pers di Gedung Samudera Indonesia, Jakarta, Minggu, 1 Mei 2011.

Ia mengatakan kapal Sinar Kudus akan dikawal oleh KRI Banjarmasin milik TNI Angkatan Laut menuju Wa Salala, Oman. Sinar Kudus akan dicek kondisinya dan ada pergantian awak kapal baru. "Awak yang disandera kami pulangkan ke Indonesia," ujarnya.

David menolak menyebutkan jumlah uang tebusan yang dibayarkan. Namun, kata dia, jumlahnya lebih dari yang disebutkan media asing, yakni US$ 4,5 juta atau sekitar Rp 38,7 miliar. "Jumlahnya jauh di atas angka yang disepakati dengan pembajak," kata dia. Uang tebusan itu, ujar David, sepenuhnya ditanggung Samudera Indonesia.

Berikut kronologis pembebasan MV Sinar Kudus itu.

KRI Yos Sudarso saat singgah di pelabuhan Colombo, Sri Lanka. (Foto: Sri Lanka Navy)

16 Maret 2011
- Pukul 14.49 WIB MV Sinar Kudus disandera perompak di Somalia.

23 Maret
- Pukul 18.00 WIB KRI Abdul Halim Perdanakusumah dan KRI Yos Sudarso sebagai Satuan Tugas Duta Samudera berangkat dari Kolinlamil Tanjung Priok. Mereka merapat pada 25 Maret pukul 10.00 WIB di Pelabuhan Teluk Bayur Padang untuk persiapan (bekal ulang).
- Pukul 11.45 WIB dua kapal ini berangkat menuju pelabuhan Colombo.

29 Maret
- Pukul 07.20 waktu setempat Satgas bersandar di pelabuhan Colombo dan melakukan persiapan.
- Pukul 11.45 pesawat Boeing 737 TNI AU mendarat di Colombo, selanjutnya dilaksanakan embarkasi pasukan Taifib dan Kopasus.

30 Maret
Pukul 07.25 waktu setempat Satgas menuju daerah operasi di El Daman. Namun perompak yang menguasai Sinar Kudus menjauh.

5 April
Pukul 06.00 Satgas tiba di perairan Somalia mengumpulkan data dan persiapan ulang.

9 April
Respons tak kunjung datang, perompak pun menaikkan nilai tebusan kepada pemilik kapal, PT Samudera Indonesia. Jika awalnya hanya meminta US$ 1 juta atau sekitar Rp 9 miliar, sekarang mereka meminta US$ 3,5 juta atau Rp 31,5 miliar.

10 April
- Pembajak memberi tenggat dua hari untuk pembayaran tebusan. Jika tak direspons, mereka mengancam akan menaikkan nilai tebusan.
- Juru Bicara Kepresidenan Bidang Luar Negeri, Teuku Faizasyah, menyatakan pemerintah telah melakukan upaya pembebasan awak kapal MV Sinar Kudus.

11 April
- PT Samudera Indonesia mengumpulkan anggota keluarga ABK di Jakarta untuk memberikan informasi terkait kondisi keluarga mereka di Somalia.
- Presiden SBY menekankan agar pembebasan 20 ABK MV Sinar Kudus dilakukan dengan negosiasi yang cermat.
- Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan semua opsi, termasuk operasi militer terbuka untuk membebaskan 20 awak kapal Sinar Kudus.

12 April
Perompak Somalia menurunkan nilai tebusan menjadi US$ 3 juta atau sekitar Rp 27 miliar.

13 April
- Dubes Somalia untuk Indonesia, Mohamud Olow Barow, menyampaikan permintaan maafnya kepada pemerintah Indonesia.
- Dubes Somalia mempersilakan pemerintah Indonesia menggunakan aksi militer jika negosiasi menemui jalan buntu.

21 April
KRI Banjarmasin berangkat dari Tanjung Priok bergabung dengan dua KRI lainnya.

25 April
Pukul 10.30 Satgas tiba di pelabuhan Salalah Oman.

26 April
Satgas menuju daerah operasi yang jaraknya 3 mil dari pantai timur Somalia.

1 Mei
- Pukul 06.00 waktu setempat Satgas berada di perairan Somalia berjarak 15 Nm dari Sinar Kudus.
- Pukul 13.10 Sinar Kudus dibebaskan dan dikawal KRI Banjarmasin menuju Salalah Oman.

Sumber: TEMPO Interaktif

TNI AU Akan Tambah Radar dan Satuan Peluru Kendali

(Foto: Puspen TNI)

2 Mei 2011, Surabaya (Pelita): Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat, SIP beserta staf melakukan kunjungan kerja di Pusat Pendidikan dan Latihan Pertahanan Udara Nasional (Pusdiklat Hanudnas), di Kenjeran, Surabaya, pekan lalu.

Kepada Kasau, Komandan Pusdiklat Kolonel Pnb Supriharsanto menjelaskan Pusdilat Hanudnas merupakan pelaksana program pendidikan dan latihan sistem pertahan udara nasional diantaranya pendidikan Pelatihan Sistem Hanudnas untuk para Pamen, Ground
Control Interseption (GCI), Identifikasi, Pernika Hanudnas, Suspa Tranmisi Data Air Situation (TDAS); dan Sishanudnas bagi para Pama, Ploter, dan Military Civil Coordination (MCC) bagi Bintara dan Tamtama serta pelaksanaan praktik para siswa menggunakan Simulator Pusdiklat telah memadai.

Kasau mengatakan program TNI Angkatan Udara kedepan dalam mewujudkan Minimum Esensial Force (MEF) akan menambah radar-radar untuk memenuhi kebutuhan penginderaan wilayah udara nasional yang sangat luas. Untuk itu peran Pusdiklat Hanudnas sangat penting sehingga harus selalu diperbarui sesuai perkembangan teknologi. Selain itu juga akan menambah satuan Peluru Kendali (Rudal) jarak menengah guna menjaga kedaulatan NKRI, jelasnya.

Sumber: Harian Pelita

TNI Kawal Kapal MV Sinar Kudus

Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamada Muda Iskandar Sitompul (kiri) bersama Director Samudera Indonesia (SI) Group Asmari Herry (kanan) usai memberi keterangan pers di kantor Samudera Indonesia Group, Jakarta, Minggu (1/5). Sejumlah 20 awak kapal Sinar Kudus dinyatakan bebas dari pembajakan perompak Somalia setelah 46 hari disandera di perairan sekitar Somalia. (Foto: ANTARA/Rosa Panggabean/ama/11)

1 Mei 2011, Jakarta (ANTARA News): Sejumlah prajurit TNI yang dilengkapi dengan persenjataan akan mengawal kapal MV Sinar Kudus menuju tempat aman setelah dibebaskan oleh perompak di perairan Somalia.

"Semua sudah dibebaskan. Selanjutnya TNI yang di sana akan mengawal kapal sampai aman," kata Kepala Pusat Penerangan TNI, Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul dalam keterangan pers bersama pimpinan PT Samudera Indonesia di Jakarta, Minggu malam.

Laksamana Muda Iskandar menjelaskan, TNI akan mengawal kapal ke tempat yang diinginkan oleh PT Samudera Indonesia sebagai pemilik kapal MV Sinar Kudus.

Menurut dia, kapal tersebut perlu di kawal karena ada sekitar 15 kelompok perompak yang beraksi secara terpisah di perairan Somalia.

"Kalau ini kita lepas saja, ada risiko bisa dirompak lagi," kata Iskandar.

Para perompak tersebut sudah terlatih dan sangat terorganisasikan. Iskandar menjelaskan, setiap kelompok perompak memiliki tim yang melakukan tugas masing-masing, misalnya menyergap, tim perunding , dan penanggung jawab senjata.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT Samudera Indonesia David Batubara mengatakan, kapal MV Sinar Kudus telah meninggalkan perairan Somalia Minggu sore . Kapal tersebut bergerak ke arah utara dengan kecepatan 12 knot.

"Rencananya akan berlabuh di sebuah pelabuhan yang sudah disiapkan dan aman," kata David tanpa menjelaskan lebih rinci tentang tempat tersebut.

Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul menambahkan, pemerintah telah memutuskan untuk menggabung opsi perundingan dan operasi militer untuk membebaskan awak kapal MV Sinar Kudus.

Hal itu, kata Iskandar, sesuai dengan arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinyatakan dalam sidang kabinet pada 18 Maret 2011, atau dua hari setelah kapal dibajak.

Menurut Iskandar, TNI telah mengirimkan sejumlah pasukan, tiga kapal, satu pesawat, dan satu helikopter untuk menjalankan misi itu.

"Kita mem-back up dari belakang dengan jarak dekat sekali," katanya.

Iskandar menjelaskan, TNI tidak melakukan penyerangan terhadap perompak karena beberapa pertimbangan, antara lain adalah saran dari Ikatan Nahkoda Niaga Indonesia. Kelompok itu menyarankan pihak terkait untuk mendahulukan upaya perundingan .

"Keluarga, ibu, dan anaknya juga mengatakan usahakan diplomasi," kata Iskandar menambahkan.

Selain itu, posisi MV Sinar Kudus yang sudah lego jangkar atau merapat ke daratan dan berada di antara kapal dari negara lain juga menjadi pertimbangan. Operasi militer berupa penyerangan dalam posisi seperti itu bisa menimbulkan banyak korban, termasuk dari pihak kapal negara lain.

Pengamat: Indonesia Harus Berpartisipasi Perangi Perompak

MV Sinar Kudus. (Foto: NATO)

Pengamat Hukum Internasional Hikmahanto Juwana menilai insiden penyanderaan kapal berbendera Indonesia oleh perompak Somalia harus menjadi alasan kuat bagi Pemerintah Indonesia untuk berpartisipasi dalam upaya internasional memerangi perompak.

"Pemerintah harus berpartisipasi dalam upaya masyarakat internasional memerangi perompak Somalia dan para pengendalinya baik yang berada di Somalia atau di luar," kata Hikmahanto dalam keterangan pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Minggu.

Ia menilai, Pemerintah perlu mendorong PBB untuk memberi bantuan kepada pemerintah Somalia agar Somalia bangkit dari negara gagal.

"Perompakan di daerah Somalia merupakan akibat dari tidak dimungkinkannya rakyat Somalia mendapatkan pekerjaan yang layak," katanya.

Pada kesempatan itu ia mengapresiasi Pemerintah dan PT Samudera Indonesia atas keberhasilan pembebasan 20 WNI ABK NV Sinar Kudus.

"Sebagaimana disampaikan oleh David Batubara dari SI bahwa negosiasi ini relatif cepat bila dibandingkan dengan negosiasi yang dilakukan oleh kapal-kapal berbendera negara lain," katanya.

Menurut Hikmahanto, Pemerintah dan SI telah membuktikan mereka tidak mengabaikan perlindungan bagi warga negaranya.

"Mereka telah serius dalam upaya menyelamatkan para ABK," katanya.

Saat ini, kata dia, pemerintah harus memikirkan upaya agar kapal-kapal berbendera Indonesia tidak menjadi sasaran empuk bagi perompak Somalia serta WNI ABK di kapal-kapal berbendera bukan Indonesia tidak terancam keselamatannya.

Pemerintah, kata dia, harus menyiapkan prosedur tetap yang dilakukan ketika peristiwa yang sama terjadi.

"Bagaimana prosedur kerja antara pemerintah dengan pemilik kapal dan bagaimana opsi militer dalam posisi siaga," katanya.

Pemerintah, lanjut dia, juga bisa memikirkan kemungkinan TNI untuk berperan dalam mengawal kapal-kapal kargo yang penting bila melewati jalur laut itu, atau bahkan memikirkan agar personel militer dapat berada di dalam kapal.

"Pemerintah juga bisa mendorong agar ada jasa pengamanan swasta untuk turut melakukan pengamanan di atas kapal berbendera Indonesia," katanya.

Pada akhir pekan ini, kapal berbendera Indonesia yang dibajak oleh perompak Somalia telah dibebaskan setelah pemilik kapal membayar tebusan.

Sumber: ANTARA News

Korpaskhas Memperoleh Alokasi NVG PM-1

DNVG-PM1 Digital Night Vision Goggle. (Foto: Paulson)

30 April 2011, Bandung (Pen Korpaskhas): Guna menunjang kelancaran tugas yang diemban Korpaskhas, bertampat di Gedung Simulator QW-3 Wing III Paskhas, para prajurit Korpaskhas yang berjumlah sekitar 30 orang yang berasal dari seluruh satuan jajaran, selama satu hari Jumat tanggal 29 April 2011, mendapat pelatihan penggunaan peralatan baru dengan jenis NVG PM-1 bertempat di Wing III Paskhas, Lanud Sulaiman, Bandung.

Alat yang merupakan produksi jerman ini, baru digunakan oleh satuan khusus TNI termasuk diantara Korpaskhas, dan peralatan NVG PM-1 akan langsung dioperasikan keseluruh satuan jajaran Paskhas dan termasuk Satuan Khusus detasemen Bravo-90 Paskhas.

Menurut keterangan Asisten Logistik Korpaskhas Kolonel Tek Wahyu Laksito, alat NVG PM-1, yang lebih dikenal sebagai teropong malam ini selain praktis dan efisien juga memiliki keunggulan yang tidak merepotkan prajurit dalam penggunaannya maupun perawatannya, seperti memiliki daya jangkau sekitar 150 meter, menggunakan hanya dengan satu battreei daya tahan lama, perolehan gambar lebih jernih dan terang dibandingkan dengan alat sejenisnya, alat yang lama hasil perolehan gambar berwarna kuning kehijau-hijauan sedangkan jenis NVG PM-1 ini penglihan hasil Hitam Putih dengan hasil gambar yang tajam dan jernih.

Tampak dalam gambar Asisten Logistik Korpaskhas Kolonel Tek Wahyu Laksito sedang menjelaskan kepada prajurit paskhas yang mengikuti kegiatan pelatihan penggunaan alat baru jenis NVG PM-1 di Gedung Simulator, Wing III Paskhas, di Lanud sulaiman Bandung.

Sumber: TNI AU

Lanud Supadio Akan Diperkuat Pesawat Tanpa Awak

Sejumlah prajurit Skadron Udara 1 Elang Khatulistiwa berjalan melewati pesawat tempur jenis Hawk 100, di apron Pangkalan TNI AU (Lanud) Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (30/4). (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ss/ama/11)

30 April 2011, Sungai Raya, Kalbar (ANTARA News): Panglima Komando Operasi TNI AU I Marsekal Muda TNI Dede Rusamsi mengatakan untuk memperkuat pertahanan Pangkalan Udara TNI AU Supadio Pontianak, akan ditempatkan pesawat tanpa awak serta kelengkapan alat utama sistem pertahanan lainnya.

"Pesawat jenis itu juga digunakan AB India guna menjaga perbatasannya dengan China dan Pakistan rencananya kita akan menambah satu skuadron berupa pesawat tanpa awak di Pangkalan Udara Supadio Pontianak untuk memperkuat kemampuan pemantauan termasuk daerah perbatasan di Kalimantan Barat," katanya di Sungai Raya, Sabtu.

Menurut dia, untuk mempersiapkan kedatangan pesawat tersebut, saat ini proses pembangunan hanggar sedang dilakukan.

"Karena anggarannya terbatas, maka pembangunannya akan dilakukan secara bertahap. Namun, saat ini sudah mulai dikerjakan," ucapnya.

Dede mengatakan, pesawat tanpa awak mempunyai fungsi yang sangat strategis untuk mempertahankan kedaulatan NKRI karena dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Selain itu, pesawat tersebut juga dapat dipersenjatai serta dilengkapi dengan peralatan pendeteksi untuk kondisi malam dan siang hari.

"Ditargetkan tahun depan satu skuadron pesawat itu sudah bisa dipindahkan ke Lanud Supadio," ucapnya.

Dia juga menambahkan, terkait rencana pembelian Pesawat T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan dan hibah 24 pesawat F-16 dari Amerika, jika terealisasi pesawat-pesawat tersebut akan ditempatkan di Madiun.

Dede menjelaskan, pengadaan pesawat T-50 dimaksudkan sebagai pengganti dari berbagai pesawat latih dan serang ringan. Termasuk T-38 dan F-5B untuk pelatihan dan Cessna A-37B Close Air Support yang dioperasionalkan di Indonesia.

Ia melanjutkan, program itu pada awalnya dimaksudkan untuk mengembangkan pesawat latih secara mandiri yang mampu mencapai kecepatan supersonik guna persiapan pilot bagi pesawat Sukhoi.

Sementara untuk kelengkapan Alutsista lainnya sesuai dengan program pengadaan peralatan tempur Mabes TNI AU akan terus dilakukan hingga 2024 mendatang.

"Untuk Lanud Supadio sendiri, karena statusnya akan ditingkatkan menjadi Bintang 1 atau A, dalam waktu dekat rencana pengadaan Radar di Kalimantan Barat juga akan direalisasikan. Yang jelas kita akan terus memperbaiki sistem persenjataan kita," ucapnya.

Sumber: ANTARA News