Monday, October 26, 2009

Rusia Berencana Membangun Fasilitas Militer di Bolovia

K-8 Karakorum milik AU Zimbabwe, jet tempur sejenis dibeli oleh Bolivia setelah dihambat membeli jet tempur buatan Republik Ceko oleh AS. (Foto: DID)

26 Oktober 2009 -- Presiden Bolivia Evo Morales mengumumkan Moskow merencanakan membangun “sebuah pusat perawatan untuk pesawat Rusia yang terbang di Amerika Latin,” di Bolivia, Sabtu (24/10).

Morales mengatakan direncanakan pusat perawatan tersebut akan dibangun di bandara di Chimore, pusat produksi coca di Andean, sebelumnya digunakan oleh Amerika Serikat dalam operasi anti narkotika.

Tidak jelas apakah fasilitas ini akan digunakan untuk pesawat militer Rusia.

Bolivia dihambat oleh Amerika Serikat membeli persenjataan yang mengandung komponen buatan AS. Sehingga Bolivia mengalihkan pembelian persenjataan ke Rusia dan Cina/Pakistan.

Belum lama ini, Bolivia membeli 6 jet tempur buatan Cina/Pakistan K-8 Karakorum setelah gagal membeli jet tempur buatan Republik Ceko karena dihambat oleh AS.

AFP/@info-hankam

Kapal Perang Australia di Pariaman

26 Oktober 2009, Pariaman -- Perahu nelayan melintas saat kapal perang Australia yang membawa bantuan alat berat dan mesin air bersih lego jangkar akibat pasang surut di pantai Gandoria, Kota Pariaman, Sumbar, Senin (26/10). Tim SAR bantuan pemerintah Australia memperpanjang kegiatan kemanuasiannya hingga 7 Nopember 2009 untuk merehabilitasi dan rekonstruksi terutama sarana umum baik sekolah, jalan, jembatan, yang hancur akibat gempa di daerah ini. (Foto: ANTARA/Maril Gafur/Koz/hp/09)


Serdadu Anak dan TNI


26 Oktober 2009 -- Negara Sierra Leone di bagian barat Afrika dicabik-cabik perang saudara tahun 2000. Negara ini semakin terkenal setelah film Blood Diamond yang dibintangi Leonardo Di Caprio, dirilis tahun 2007.

Tanpa banyak diketahui, puluhan perwira TNI bergantian menjadi pengawas militer (military observer atau milobs) di bawah bendera PBB sekitar tahun 2002-2003. Mereka mengawasi upaya perdamaian.

Sierra Leone pernah didera perang saudara antara kubu pemberontak yang dimotori Revolutionary United Front dan kubu pemerintah dan militer Sierra Leone Army. Ini terjadi pada tahun 1991.

Puncak pertempuran terjadi tahun 1997-2000. Pada pertempuran 1999, tercatat sekurangnya 6.000 orang tewas di ibu kota, Freetown. Kubu pemberontak mengandalkan pendanaan dari bisnis ilegal yang dijual di pasar dunia.

Rakyat di negeri berpenduduk sekitar 4,75 juta itu pun menjadi korban. Ribuan anak terlibat penambangan berlian ilegal, menjadi tentara dan dihukum dengan mutilasi di tangan atau kaki.

”Hukuman dijatuhkan dengan sekehendak hati oleh kelompok yang berkuasa di suatu daerah. Setidaknya di setiap kampung ada 10 orang muda yang kehilangan salah satu kaki atau tangan mereka. Sierra Leone betul-betul kehilangan satu generasi akibat konflik horizontal,” kata Letnan Kolonel Farid Makruf yang pernah bertugas sebagai milobs PBB di Freetown dan Fort Loko tahun 2002-2003.

Farid, perwira Kopassus yang ketika itu masih berpangkat kapten, mendapati sebuah negeri yang hancur lebur. ”Film Blood Diamond memang sungguh terjadi. Situasi warga sangat memprihatinkan. Banyak mantan tentara anak yang tidak dapat direhabilitasi, menjadi sangat liar, agresif, sehingga tidak bisa kembali ke masyarakat,” ungkapnya.

”Para bocah berusia sepuluh tahun hingga 12 tahun sudah pandai menembak dan membongkar pasang senapan serbu AK-47,” ujar Farid mengenang situasi di Sierra Leone.

Menurut Farid, banyak dari prajurit anak yang dicekoki narkotika sehingga kecanduan dan menjadi ganas. Mereka mengalami pencucian otak sehingga berani melawan orangtua.

Pernah terjepit

Sebanyak 10 perwira milobs Indonesia dalam Kontingen Garuda XIX-4 United Nation Mission in Sierra Leone (Unamsil) menghadapi pelbagai situasi berbahaya selama bertugas di 10 lokasi di seluruh negeri. Indonesia dipercaya PBB untuk mengirimkan beberapa gelombang kontingen Unamsil hingga misi ditarik karena perdamaian dicapai tahun 2006.

Ancaman fisik dan tekanan mental dialami para perwira PBB. Sebelum Kontingen Garuda XIX-4 tiba, seorang perwira TNI yang bertugas sebagai milobs sempat disandera pemberontak. Bahkan, pasukan junta militer Armed Forces Revolutionary Council menyandera para tentara Inggris yang melatih pasukan pemerintah.

Para pengamat PBB yang tidak bersenjata itu diintimidasi karena mereka memberikan laporan obyektif tentang situasi sebuah daerah yang ditinjau. Para milobs, lanjut Farid, juga harus menerima laporan keluhan mantan pemberontak dan penyerahan senjata.

Para milobs pernah ”terjepit” karena harus menjadi mediasi agar pemberontak tidak menyerang Sierra Leone dari wilayah Liberia di sebelah timur yang juga dalam keadaan karut-marut. Salah satu ”pemain” dalam perang saudara di Sierra Leone adalah penjahat perang asal Liberia, Charles Taylor. Milobs harus bergerak ke pedalaman, daerah tambang, dan zona rawan konflik.

”Saya juga mendapat kesempatan langka menyaksikan proses peradilan para penjahat perang. Ada juga kasus yang berhasil diselesaikan lewat Dewan Kebenaran dan Rekonsiliasi (Truth and Reconciliation Council). Upaya rekonsiliasi mereka mencontoh kasus Afrika Selatan. Pengalaman itu sebetulnya sangat berharga bagi Indonesia,” kata Farid.

Singkat cerita, ujar Farid, perwira TNI pun mendapat pujian dan direkomendasikan untuk kembali bertugas pada masa mendatang.

KOMPAS

Sunday, October 25, 2009

Taiwan Pertimbangkan Pensiunkan Mirage 2000

(Foto: Taiwan air power.org)

26 Oktober 2009 -- Departemen Pertahanan Taiwan mempertimbangkan mempensiunkan jet tempur Mirage 2000 dari skuadron Angkatan Udara Taiwan atau menyegel dan menyimpannya sebagai bagian dari armada , diungkapkan Menteri Pertahanan Nasional Kao Hua-chu.

Anggaran 2009 AU Taiwan dianggarkan biaya operasi dan perawatan Mirage 2000 sekitar $24.840 perjam terbang, sedangkan F-16 sekitar $4.937 dan jet tempur buatan Taiwan Ching Kuo $7.715.

AU Taiwan membeli 60 jet tempur Mirage 2000 dari Perancis pada 1992, skuadron pertama bertugas pada Desember 1997. Saat ini 57 Mirage masih dioperasikan AU Taiwan.



Airforce-technology.com/@info-hankam

LPD KRI Banjarmasin-592 Akan Perkuat Kolinlamil


26 Oktober 2009, Surabaya -- Kapal perang jenis Landing Platform Dock ( LPD) Banjarmasin-592 dalam waktu dekat akan menambah unsur jajaran kapal perang TNI AL dan direncanakan akan menambah unsur kapal perang dibawah pembinaan Komando Lintas laut Militer (Kolinlamil), demikian disampaikan Panglima Kolinlamil Laksda TNI Marsetio,M.M saat meninjau pembangunan LPD yang dibangun di PT PAL, Kamis pekan lalu.

Kapal perang dengan panjang 125 meter dan lebar 22 meter yang dibangun di PT PAL tersebut direncanakan sebagai salah satu pengganti dari sedikitnya lima unsur kapal perang yang akan dihapus dari jajaran TNI AL. Beberapa unsur Kapal peranng yang direncanakan dihapus dari TNI AL tersebut usianya sudah relatif cukup tua dan dioperasikan lebih dari 40 tahun di Jajaran Kolinlamil.

Kunjungan Panglima Kolinlamil laksda TNI Marsetio,M.M didampingi Kadisadal Laksma TNI Suryo D. Prabawa, Kolonel Laut (T) Duapadang dan Asrena Pangkolinlamil Kol Laut (P) Zainudin dan staf satuan tugas pengadaan kapal perang di PT PAL. Panglima Kolinlamil beserta rombongan diterima Dirut PT PAL Harsusanto diwakili Direktur SDM PT PAL Sewoko berserta staf di ruang rapat Gedung PT PAL Surabaya.

Dalam kesempatan tersebut Dirut PT yang diwakili Direktur SDM dan beberapa staf PT PAL menyampaikan paparan tentang penyelesaian pentahapan pembangunan Kapal perang dengan nomor lambung- 592 .

Dalam kesempatan tersebut Panglima Kolinlamil menanggapi tentang kemampuan pintu masuk kapal LPD Banjarmasin yang berada lambung kapal pada saat embarkasi alat-alat berat dari satuan TNI . Hal itu agar nantinya tidak manjadi kendala secara tehnis saat embarkasi alat-alat berat dari Satuan TNI maupun kendaraan tempur dan rundis lainnya dalam mendukung kegiatan operasi pergeseran pasukan maupun operasi penaggulangan bencana alam.

Sementara itu pada saat di kapal perang LPD Banjarmasin, Laksda TNI Marsetio, M.M beserta rombongan meninjau berbagai peralatan dan fasilitas akomodasi yang ada di kapal mulai dari peralatan komunikasi, peralatan navigasi, ruang anjungan dan peralatan radar, ruang akomodasi ABK dan Komandan. Selain itu meninjau ruang kendali pesawat udara, ruang operator mesin kapal, ruang deck kapal serta kelengkapan lifecraft untuk SAR, serta perahu karet.

Saat peninjauan berlangsung di kapal perang tersebut, Panglima Kolinlamil mendapat penjelasan secara garis besar tentang bebagai hal diantaranya berkaitan dengan peralatan dan kemampuan LPD Banjarmasin dari Staf PT PAL.

Dalam kegiatan tersebut, Laksda TNI Marsetio, M.M menyampaikan penekanan kepada perwira tertua ABK LPD Banjarmasin Letkol laut (P) Eko Jokowahyono bahwa peralatan komunikasi udara agar dlaksanakan latihan dengan pesud TNI AL sebagai uji coba pesawat dan ketrampilan anggota. Demikian pula dengan peralatan lainnya agar dilaksanakan latihan dan uji coba komunikasi dengan unsur-unsur yang ada di pangkalan.

Pada akhir kunjungan kepada Perwira tertua yang direncanakan mengawaki LPD Banjarmasin-592, menambahkan untuk lebih aktif mengadakan latihan-latihan terhadap peralatan yang ada dalam rangka menambah kemampuan setiap ABK sesuai dengan tugas dan tanggung jawab dalam mengawaki kapal perang .

DISPENAL

Kapal Perang Rusia Akhiri Kunjungan Ke Malaysia

Destroyer Admiral Tributs. (Foto: maritimequest.com)

26 Oktober 2009 -- Satuan Tugas Armada Pasifik Rusia yang ditugaskan melakukan patroli anti perompak di Teluk Aden, telah menuntaskan kunjungan persahabatan selama 5 hari, 22 - 26 Oktober di pelabuhan Port Klang, Malaysia, diungkapkan juru bicara Armada kepada RIA Novosti, Senin (26/10).

Satuan tugas terdiri dari destroyer Admiral Tributs - 552 dilengkapi dua helikopter dengan dikomandani Cdr Andrei Kutznetsov, kapal tunda MB 99, tanker Boris Butoma dan unit infantri laut, telah melakukan pengawalan kapal komersial, pengamatan udara, pencarian tersangka perompak kapal.

Rusia bergabung dengan misi internasional anti perompak di lepas pantai Somalia pada Oktober 2008.

Tiga kapal perang Rusia - frigate Neustrashimy dari Armada Baltik, destroyer Admiral Vinogradov dan Admiral Panteleyev dari Armada Pasifik.

Kapal perang dari Armada Pasifik telah mengawal lebih 100 kapal dagang Rusia dan negara lain dan mencegah sejumlah aksi perompakan sejak Januari 2009.

RIA Novosti/@info-hankam

Menhan RI dan Australia Adakan Pertemuan


26 Oktober 2009, Jakarta -- Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Australia John Faulkner, Senin, dijadwalkan mengadakan pertemuan untuk membahas berbagai isu aktual kawasan dan kerja sama pertahanan serta militer kedua negara.

Salah satu bahasan yang menjadi pembicaraan kedua pejabat pertahanan tersebut adalah masalah imigran gelap.

Selama ini Indonesia menjadi negara tempat persinggahan para imigran gelap yang ingin mencari suaka ke Australia.

Pada kesempatan terdahulu, Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, RI akan terus memantapkan kerja sama pertahanan dengan sejumlah negara termasuk Australia.

"Selama ini, Pemerintah Indonesia dan Australia sepakat memantapkan kerja sama pertahanan kedua negara, atas dasar saling percaya demi terciptanya stabilitas kawasan," katanya.

RI dan Australia bahkan telah memantapkan komitmennya untuk menjalin kerja sama pertahanan dan militer yang lebih baik dengan Penandatanganan Pernyataan Bersama oleh pimpinan militer kedua negara pada Januari 2009.

Pernyataan Bersama tersebut memfokuskan pada keterlibatan pertahanan Australia dengan Indonesia di bidang anti terorisme, keamanan laut, intelijen, bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana, serta penjagaan perdamaian.

Iringan-iringan alat berat bantuan pemerintah Australia melintas d kawasan tertimbunnya ratusan rumah warga di Ladang Laweh, Padang Pariaman, Sumbar, Jumat (23/10). Tim SAR bantuan pemerintah Australia saat ini mulai melakukan rehabilitasi pasca gempa di daerah ini terutama untuk membuka badan jalan yang terkena longsor, membangun sekolah darurat dan perbaikan jembatan. (Foto: ANTARA/Maril Gafur/ama/09)

Pernyataan tersebut juga berisi garis besar kegiatan-kegiatan keterlibatan pertahanan di masa depan, termasuk pelatihan militer dan pendidikan pasca-sarjana, kunjungan dan pertukaran studi, latihan dan patroli laut gabungan, kedua negara.

Sebelumnya, terkait masalah imigran gelap, Pemerintah Australia melalui Menteri Dalam Negeri Australia Brendan O`Connor menyatakan, Australia menggantungkan upayanya menumpas aksi penyelundupan manusia yang marak ke negaranya dalam setahun terakhir ini pada komitmen negara-negara tetangganya, khususnya Indonesia dan Malaysia.

"Penyelundupan manusia bukan hanya masalah Australia melainkan masalah global dan regional," katanya dalam penjelasan persnya, Jumat (23/10), menanggapi keberhasilan kapal patroli negaranya menangkap satu lagi kapal pengangkut pencari suaka di perairan Australia.

Ia mengatakan, komitmen negara-negara tetangga Australia, seperti Indonesia dan Malaysia, melalui kerja sama bilateral maupun Forum Bali Process tentang Penyelundupan Manusia, Perdagangan Orang dan Kejahatan Trans-nasional terkait lainnya, sangat penting.

Pertemuan pejabat terkait Australia dengan mitra kerja sama mereka di Indonesia dan Malaysia baru-baru ini telah pun mendorong langkah-langkah positif dalam penumpasan aksi kejahatan penyelundupan manusia di kawasan, katanya.

ANTARA News