Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Wednesday, January 5, 2011

Sepak Terjang Pasukan Katak TNI di Singapura-Johor

Upacara penyambutan jenazah pahlawan Dwikora Usman-Harun. (Foto: rhariprasetyo)

6 Januari 2011 -- (KOMPAS): Di belahan dunia barat, Perang Korea, pada tahun 1950-1953, dikenal sebagai perang yang terlupakan (forgotten war). Di Asia Tenggara, peristiwa Konfrontasi ”Ganjang Malaysia” (1963-1966) juga menjadi perang terlupakan di antara Indonesia melawan Malaysia, Singapura, Brunei, dan Persemakmuran Inggris Raya.

”Saya berulang kali menyusup ke Singapura dari pangkalan di Pulau Sambu dan Belakang Padang di sekitar Pulau Batam. Saya masuk lewat Pelabuhan Singapura dengan menyamar jadi nelayan biasa,” kata Iin Supardi (69), yang kala itu berpangkat kelasi dua pada satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut (AL), Selasa (4/1) di Tangerang.

Di Singapura, Iin menggelar operasi intelijen berupa agitasi, provokasi, hingga upaya sabotase. ”Saya mendatangi kelompok pemuda Tionghoa dan pemuda Melayu untuk membangun kecurigaan antara mereka. Saya menghasut kelompok melawan kelompok. Saya menyamar bekerja sebagai buruh pada taukeh Tionghoa di daerah Jurong,” kata Iin mengenang operasi intelijen tahun 1963-1965 itu.

Sambil mengantar barang dagangan berupa hasil bumi ke Singapura atau berlayar mengantar barang selundupan elektronik, celana, dan rokok dari Singapura ke Kepulauan Riau, Iin menyelundupkan bahan peledak berulang kali ke pelbagai lokasi aman di seantero Singapura.

”Saya sering kucing-kucingan dengan Es Ai Di (yang dimaksud adalah Reserse Kepolisian Singapura alias CID). Harus kasih uang suap hingga 50 straits dollar,” kata Iin yang fasih berdialek Melayu Semenanjung dan sedikit menguasai dialek Hokkian yang lazim digunakan di Singapura,

Sebelum bertugas di Kepulauan Riau, Iin melatih Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) yang dikenal sebagai Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Dia melatih TNKU di kamp pelatihan milik TNI di Bengkayang, Kalimantan Barat.

Anggota Kopaska menyusup ke Singapura dari pangkalan di Kepulauan Riau di sekitar Batam, Tanjung Balai Asahan, dan daerah sekitarnya. Mereka biasanya menggunakan perahu kecil dengan motor tempel dan menyamar menjadi warga setempat yang memang biasanya memiliki kerabat di Semenanjung Malaya dan Singapura.

Idjad (70), seorang kopral Kopaska asal Sulawesi Selatan, mengaku masuk ke kawasan perkotaan Singapura dan ke Johor di Semenanjung Malaya. ”Saya punya kontak agen lokal bernama Usman yang sangat pro-Indonesia. Usman tinggal di daerah Kampung Melayu. Ketika saya dan teman-teman tertangkap, dia juga ikut ditahan di Singapura,” kata Idjad, yang juga anggota Kopaska.

Idjad mengingat ketiga rekannya sesama Sukarelawan (Sukwan) Dwikora ditangkap di perbatasan Singapura-Johor di Causeway di dekat Kranji dan Woodlands. Ketika itu, para Sukwan sudah bersiap-siap mengebom pipa air yang memasok kebutuhan air di Singapura dari Johor.

Idjad pun masih teringat saat-saat terakhir ketika Sersan KKO (Marinir) Usman Djanatin akan menyeberang ke Singapura sebelum ditangkap, lalu akhirnya dihukum gantung karena mengebom pusat perbelanjaan di Orchard Road bersama rekannya yang bernama Harun. ”Dia minta dicukur kumis sebelum berangkat agar terlihat rapi,” kenang Idjad.

Ketika dibebaskan dari tahanan di Singapura setelah perjanjian damai Indonesia-Malaysia, Usman masih ditahan di Singapura. Idjad mengaku bertemu kembali dengan Usman pada tahun 1972 saat berlangsung latihan gabungan militer Indonesia-Malaysia dan Singapura. Usman tinggal di daerah Changi dan masih terlihat paranoid karena merasa selalu diawasi aparat. ”Meski begitu, dia yakin Merah Putih seharusnya berkibar di Singapura dan Malaysia,” ujar Idjad.

Seorang veteran lainnya, Liem Hwie Tek (71), asal Cirebon yang ditemui tahun lalu, mengaku, para veteran Dwikora di daerah asalnya semakin terlupakan. Liem masih menyimpan ribuan negatif foto konfrontasi di sektor Kepulauan Riau, tempatnya bertugas di seberang Singapura yang belum dipublikasikan hingga kini.

Meski peran mereka terlupakan, para veteran Konfrontasi di Indonesia bangga dan tetap yakin pada cita-cita politik Soekarno menentang neokolonialisme melalui pembentukan Malaysia kala itu.

Fakta hari ini memang membuktikan, tahun 2000-an, bentuk penjajahan baru dari imperialisme perusahaan-perusahaan asing asal negara maju memang menguasai bangsa-bangsa Asia-Afrika yang gagal membangun kemakmuran pascakolonialisme seusai Perang Dunia II. Kita pun boleh mengingat pesan Bung Karno, ”Djangan Sekali-kali Meloepakan Sedjarah”.... (Iwan Santosa)

Mengenang Usman & Harun (1)
Mengenang Usman & Harun (2)

Sumber: KOMPAS

Wednesday, November 24, 2010

Pengeran Benhard Terlibat Perdagangan Senjata pada 1950-an Karena Ngebet Gulingkan Pemerintah Indonesia


25 November 2010, Amsterdam -- -Pangeran Benhard dari Belanda terlibat perdagangan senjata di Indonesia sekitar tahun 1950. Demikian pakar sejarah Gerard Aalders dari Institut Dokumentasi Perang Belanda (NIOD) dalam bukunya berjudul Bernhard Zakenprins.

Aalders tidak menemukan bukti bahwa Pangeran Benhard terlibat secara langsung sebagai pedagang yang aktif menjual dan membeli senjata. Namun peneliti ini menyatakan ada bukti bahwa Pangeran Benhard terlibat dalam perdagangan senjata di Indonesia, dengan tujuan menggulingkan pemerintahan baru di Indonesia.

"Beberapa pedagang senjata mengenal Pangeran Benhard secara pribadi dan konon pegadang senjata asal Afganistan Ali Shah mengadakan pertemuan dengan pangeran Benhard di Soestdijk untuk membicarakan urusan tersebut," tulis Alders dalam buku itu.

Aalders berkata 98 persen bukti mendukung kesimpulan tersebut. Banyak laporan penting yang menurutnya masih menjadi rahasia.

Republika

Saturday, April 17, 2010

Misi Senyap Kapal Selam Tjandrasa


Oleh: F Djoko Poerwoko, Pemerhati Militer

18 April 2010 -- Tanggal 19 Februari 1963 di halaman Istana Negara, Jakarta, Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Sakti bagi 1.165 pejuang Trikora. Sejumlah nama tercantum sebagai penerima Bintang Sakti, termasuk Herlina si Pending Emas, Leonardus Benny Moerdani, dan 61 ABK Kapal Selam RI Tjandrasa. Baru kali ini bintang tertinggi militer dianugerahkan secara kelompok, umumnya hanya buat individu yang bertugas diluar panggilan tugas.

ABK RI Tjandrasa dianugerahi bintang tertinggi militer Indonesia atas keberanian mereka yang luar biasa mendaratkan 15 pasukan RPKAD di Teluk Tanah Merah, Irian Barat, wilayah yang dijaga ketat oleh Belanda. Pendaratan di malam yang kelam tanggal 21 Agustus 1962 ini hanya berhasil dilakukan oleh RI Tjandrasa, sedangkan dua kapal selam lainnya cikar haluan karena ketahuan musuh.

Cerita yang runtun dan apik ini disajikan oleh Atmadji Sumarkidjo, seorang wartawan militer senior yang saat ini alih tugas di media TV. Buku dengan judul Mission Accomplished: Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam RI Tjandrasa ini telah diluncurkan oleh KASAL di geladak kapal perang KRI Surabaya-591 pada awal tahun 2010.

Buku yang lahir di atas laut ini mengisahkan sepak terjang pelaut Indonesia selama operasi pembebasan Irian Barat tahun 1962.

Sejujurnya misi kapal selam memang misteri dan ”tabu” untuk diceritakan. Satuan yang mempunyai moto Wira Ananta Rudhiro (Tabah Sampai Akhir) ini selalu beroperasi dalam senyap sehingga senyap pula dari pemberitaan di media massa.

Namun, dengan keberanian, akurasi data, dan kedekatan dengan sejumlah petinggi militer, Atmadji berhasil menyusun cerita yang pantas untuk dibukukan.

Dari buku setebal 155 halaman ini, pembaca diajak masuk dalam kehidupan kapal selam, kebiasaan para ABK, hingga tugas-tugas operasi yang selama ini dijalankan, terutama saat operasi Djajawidjaja berlangsung.

Penulis mengakui bahwa semua data yang didapat adalah berdasarkan testimoni para pelaku dan tidak satu pun ”dokumen negara” yang digunakan sebagai acuan. Dari sinilah kepiawaian penulis dibuktikan sehingga cerita yang disajikan dapat mengalir dengan lancar tanpa resistensi birokrasi militer.

Bisul hampir pecah

Subjudul ini dipakai penulis saat menggambarkan situasi sidang kabinet tanggal 20 Januari 1962, sepekan setelah tenggelamnya RI Matjan Tutul di Laut Aru pada tanggal 15 Januari 1962. Peristiwa yang dikenal dengan peristiwa Aru ini menewaskan Deputi I KASAL Komodor Jos Sudarso dan melengserkan KASAU Laksamana Madya Udara S Suryadharma. Adalah menjadi pertanyaan besar tentang siapa yang berinisiatif melaksanakan operasi rahasia tanpa diketahui panglima.

Digambarkan bahwa sidang di Istana Bogor tersebut sangat mencekam, serius, dan sepi setelah Kolonel Mursid menjawab ”Tidak ada perubahan…!”

Menjawab pertanyaan Omar Dhani (KASAU baru) saat bertanya kenapa operasi tidak dibatalkan atau ditunda setelah musuh mengetahui rencana ini.

Hanya karena kewibawaan Bung Karno sehingga tidak terjadi debat keras sesama peserta sidang. AURI yang sakit hati karena disalahkan dan ALRI juga tidak terang-terangan menuduh Angkatan Darat merancang operasi infiltrasi tersebut membuat gamang peserta sidang.

Meskipun semua paham bahwa infiltrasi adalah bagian dari Operasi A, rencana operasi yang dirancang Angkatan Darat.

Peristiwa Aru dan rapat di Istana Bogor sebetulnya menjadi sebuah berkah bagi Komando Mandala yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto. Karena dalam akhir rapat Presiden Soekarno memberi petunjuk bahwa Operasi Mandala, operasi pembebasan Irian Barat, adalah operasi gabungan di bawah Komando Panglima Mandala.

Sisi lain operasi pembebasan Irian Barat mengenai kedatangan 6 kapal selam yang diawaki orang Rusia. Keenam kapal selam terakhir yang datang bulan Juli 1962 ini tidak muncul di Ujung Surabaya, tetapi diperintahkan untuk tetap menyelam dan siaga di utara Irian Barat.

Dalam operasi bersandi Alugoro mereka mendapat tugas untuk free hunting, bermakna legal untuk menenggelamkan semua kapal musuh yang ditengarai mengganggu operasi Djajawidjaja.

Kala itu kapal selam ini telah dipersenjatai dengan torpedo terbaru tipe SAET-50 yang dapat homing menuju sasaran. ”Dalam operasi Alugoro yang diberikan secara langsung kepada keenam kapal selam itu adalah menuju Samudra Pasifik di utara Irian Barat. Mereka harus melakukan operasi khusus yang berdiri sendiri di luar Komando Operasi Djajawidjaja di bawah perintah Menteri/ Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya RE Martadinata.

Keenam kapal selam diperintahkan membentuk blokade ketat di sepanjang pantai utara Irian Barat untuk menenggelamkan kapal.”

Instruksi ini jelas perintah perang! (Hal 127).

Secara resmi keenam kapal selam baru diserahkan kepada Indonesia pada tanggal 15 Desember 1962. Berakhirlah tugas ABK Rusia di atas kapal selam yang ikut operasi. Kapal selam itu diberi nama RI Widjajadanu/409, RI Hendradjala/405, RI Pasopati/410, RI Bramasta/412, RI Tjundamani/411, dan RI Alugoro/406.

Tak terkendali?

Hasil perundingan di New York yang diprakarsai oleh Amerika berhasil mendamaikan pertikaian Indonesia-Belanda sehingga keluar surat perintah dari Presiden selaku Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI/ Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat untuk menghentikan tembak-menembak sejak 18 Agustus 1962 pukul 09.31 waktu Irian Barat. Surat ini baru direspons Panglima Mandala pada 25 Agustus 1962 dengan keluarnya Perintah untuk Menghentikan Permusuhan Indonesia-Belanda.

Adapun operasi pendaratan pasukan RPKAD yang dilakukan RI Tjandrasa dilaksanakan pada 21 Agustus 1962, beberapa hari setelah keluarnya sandi Awan Terang yang bermakna gencatan senjata.

Pelaksanaan operasi digambarkan penulis dengan apik dan mencekam. Faktor komunikasi dianggap sebagai kendala, mengingat operasi kapal selam selalu dilakukan dengan radio silence!

”Tiga sekoci pendarat diselimuti kegelapan dengan didayung lepas dari RI Tjandrasa menuju pantai pendaratan.

Suasana tenang, sepi, hanya suara gemerisik ombak dan dayung pasukan khusus yang terdengar.”

Buku ini dibuat berdasar testimoni para pelaku sehingga data jarak antara pantai dan kapal selam berbeda. Komandan kapal menyatakan jarak sejauh 500 meter, sedangkan saksi lain menyatakan kurang lebih 2 mil.

Buku ini apik untuk dibaca, apalagi Atmadji sering menggunakan kata-kata heroik, ”….Kita semua masih muda dari perwira sampai bintara.

Kita dipenuhi oleh semangat menyala-nyala dan tidak memikirkan hal lain, seperti gaji, rumah, atau keluarga.”

Semangat yang tentunya diperhatikan oleh para petinggi militer sampai kapan pun.

KOMPAS

Wednesday, September 2, 2009

Kuker Danrem 121/ABW Di Markas Pertahanan Darurat BPIKB


3 September 2009 -- Jawai Selatan, Kab. Sambas, Prov. Kalbar merupakan salah satu basis perjuangan bersenjata bagi pasukan Barisan Pemberontakan Indonesia Kalimantan Barat (BPIKB) selama Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 s.d 1950, oleh karena itu wilayah ini tidak luput dari perhatian Danrem 121/Abw Kolonel Inf Nukman Kosadi, (1/9) kunjungan kerja kali ini selain napak tilas rute para gerilyawan pemuda Kalbar yang di pimpin oleh Ali Anyang, juga dimaksudkan untuk silaturahmi dengan warga masyarakat setempat, terutama kepada para pelaku sejarah (Veteran 1945-1950) yang hingga saat ini masih hidup.

Dalam kesempatan kali ini, Danrem 121/Abw diterima oleh mantan Sekretaris Barisan Pemberontakan Indonesia Kalimantan Barat (BPIKB) bapak Hasan Daris NPV 14.001.299 mantan Pembantu Pelatih Pasukan BPIKB 1945 s.d 1950 di wilayah Kab. Sambas dan sekitarnya, yang saat ini beliau genap berusia 73 tahun. Dalam usia senjanya bapak Hasan Daris masih bisa beraktifitas di ladangnya, saat dijumpai rombongan Danrem 121/Abw di Masjid Jawai Selatan (Markas Pertahanan Darurat BPIKB) Hasan Daris menuturkan pengalamannya ketika dilatih oleh Serdadu Jepang dalam hal baris-berbaris, menembak, taktik bertempur, menyanyikan lagu kebangsaan Dai Nipon Jepon. Dari pengalamannya sebagai mantan Heiho itu Hasan Daris dapat melatih para pemuda Jawai dan sekitarnya untuk menjadi pasukan BPIKB.

Sementara itu mantan anggota BPIKB lainnya, dalam hal ini bapak Mohamad Lolem mengatakan bahwa Staf Pertahanan Darurat Pasukan BPIKB berusaha untuk mengumpulkan para donatur di wilayah ini dalam rangka pengadaan senjata api dari Malaysia, pada waktu itu berjumlah 16 orang donatur dan terkumpul dana sebesar Rp. 36.400,- dan beras 160 kg guna pembelian senjata laras panjang Karabin 12 pucuk dan Pistol 2 pucuk, senjata api ini diperoleh dari Malaysia dan diterima langsung oleh Kepala Pusat Perlengkapan BPIKB An. Tadjudin tertanggal 20 Januari 1949 di Markas Pertahanan Darurat BPIKB Jawai Selatan, Kab. Sambas.

Lebih lanjut Moh Lolem menuturkan, Komandan BPIKB Mohammad Ali Anyang sering menyampaikan kepada anggotanya tentang “persatuan, kesatuan dan memegang teguh disiplin, serta jangan sekali-kali mendengarkan atau menjalankan perintah dari siapapun juga, kecuali perintah dari Pimpinan BPIKB sendiri”; hal ini dimaksudkan agar perintah satu komando.

Penerangan Korem 121/Abw

Tuesday, September 1, 2009

Peringatan awal PD 2

Pasukan infanteri Jerman berbaris memasuki wilayah Polandia pada awal September 1939. Jerman menginvasi Polandia yang menyulut pecahnya Perang Dunia II. (Foto: KOMPAS/Getty Images/Hulton Archive)

1 September 2009 -- Upacara peringatan 70 tahun Perang Dunia ke 2 digelar di dekat kota Gdansk, Polandia, dengan dihadiri oleh sekitar 20 pemimpin dunia.

Presiden Polandia, Lech Kaczynski, membuka upacara dengan pidato tentang yang disebutnya sebagai pendudukan Polandia yang tragis oleh Nazi setelah kekalahan militer Polandia.

Dia mengatakan sekitar 6 juta penduduk Polandia --setengah diantaranya adalah warga Yahudi-- tewas dalam pendudukan Nazi itu.

Sementara sebelumnya, Selasa dini hari, berlangsung upacara yang menandai tembakan pertama dari kapal perang Jerman ke pelabuhan di Polandia Tahun 1939, yang kemudian memicu Perang Dunia ke 2.

Lech Kazcynski juga mengenang pembunuhan massal Katyn, ketika 20.000 aparat Polandia dibunuh oleh pasukan Uni Soviet, yang disebut sebagai tindakan kebangsaan dan balasan atas kemerdekaan Polandia.

"Apa persamaan antara holokos yang dilakukan Nazi Jerman dan Katyn? Yahudi dibasmi karena mereka Yahudi. Aparat Polandia dibasmi karena mereka aparat Polandia," katanya.

Dia mengatakan Rusia juga bertanggungjawab atas perang dengan mengatakan bahwa negaranya 'ditikam dari belakang.

Seruan melangkah maju


Pidato itu agaknya membuat posisi Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin --yang hadir dalam acara ini-- menjadi tidak nyaman.

Hubungan Polandia dan Rusia memang terganggu dengan penafsiran yang berbeda atas pemicu Perang Dunia ke 2.

"Memang dalam sejarah ada masalah antara kita, dan ini harus dibicarakan dan dianalisa dengan hati-hati," kata Putin dalam konperensi pers sebelum upacara berlangsung.

"Dengan mengetahui sejarah dan tujuannya serta tidak memaksakan pandangan masing-masing, kita pasti akan bisa melupakan masalah di masa lalu untuk bekerjasama memecahkan masalah yang menghadang di masa depan," tambahnya.

Pengadilan Rusia sudah memutuskan bahwa peristiwa Katyn tidak bisa digolongkan sebagi kejahatan perang.

Pemerintah Moskow juga masih belum bersedia untuk mengungkap dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pembunuhan massal Katyn.

Saya Melihat Awal Perang Dunia...

Hanya segelintir orang yang masih bisa mengisahkan bagaimana Perang Dunia II dimulai. Mereka yang bertahan hidup menuturkan bagaimana kapal perang Jerman, Schleswig-Holstein, mulai melepaskan tembakan ke sebuah benteng Polandia di Semenanjung Westerplatte, 1 September 1939 pukul 04.47.

”Saya mengambil teleskop dan melihat ke arah kanal, ke kanan lalu ke kiri, lalu ke arah kapal yang sandar di pantai. Saat itu, saya melihat kilatan merah dan tembakan pertama menghantam gerbang,” ujar Ignacy Skowron (94).

Waktu itu, Kopral Skowron baru berusia 24 tahun. Dia adalah salah seorang dari 182 tentara Polandia yang mempertahankan depot transit militer di Westerplatte melawan sekitar 3.400 tentara Jerman.

”Saya langsung mengambil senapan mesin. Kami mendapat perintah dan mulai menyerang balik. Kapal perang itu lalu berlayar ke kanal dan mulai menembakkan meriam demi meriam ke arah kami,” kata Skowron.

Pada hari kedua, lanjut Skowron, sudah tiga serangan diluncurkan Jerman sebelum tengah hari. Tak lama kemudian, pesawat tempur mulai berdengung di atas mereka. ”Jerman mulai menjatuhkan bom. Rumah penjaga nomor lima hancur lebur. Lima tentara tewas,” ujarnya.

Para tentara Polandia berhasil bertahan selama enam hari berikutnya. Selain menghadapi tembakan, mereka juga berjuang melawan dingin, lapar, dan kantuk karena tidak tidur selama tujuh hari.

Dari 3.400 tentara Jerman, sebanyak 200-400 orang tewas. Sementara itu, dari 182 tentara Polandia, hanya 15-20 orang tewas.

Skowron ingat ketika komandan pasukan Jerman, Jenderal Friedrich Eberhardt, mengatakan kepada komandan pasukan Polandia, Mayor Sucharski, bahwa jika dia memiliki pasukan seperti tentara Polandia, dia bisa memerangi seluruh dunia.

Simbol

Tentara Polandia yang menjadi tahanan perang di Westerplatte 1939. (Foto: ww2incolor.com)

Perang Dunia II menyisakan penderitaan mendalam di Polandia. Sekitar enam juta nyawa melayang, separuh di antaranya orang Yahudi. Kendati menyakitkan, perang itu juga membangkitkan kebanggaan.

”Westerplatte adalah simbol kepahlawanan dan pertahanan Polandia yang paling penting dan paling diakui. Ini adalah pos terisolasi dengan hanya 182 tentara. Tugas mereka bertahan selama 12 jam, tetapi mereka berhasil bertahan selama tujuh hari melawan pasukan Jerman yang jumlahnya sangat besar,” kata Pawel Machcewicz, ahli sejarah Polandia.

Skowron menghadiri peringatan 70 tahun Perang Dunia II di Westerplatte. Dia dianugerahi Order Virtuti Militari, penghargaan militer tertinggi, atas jasa-jasanya.

Apakah dia merasa sebagai seorang pahlawan? ”Kita harus saling menolong. Saat teman saya berjuang, saya pun harus berjuang,” begitu jawab Skowron.

”Saya punya kenangan sedih. Kami tidak mengira bisa keluar dari sana hidup-hidup. Kami seperti burung di dalam sangkar,” kenangnya.

BBC/KOMPAS