Anjing-anjing anggota Tim Petir Satgas Yonif 713/ST, bertugas menjaga perbatasan Indonesia-PNG. (Foto: Korem 172)
17 Oktober 2012, Jakarta: TNI Angkatan Darat (AD) berencana membeli sebanyak 17 ekor anjing untuk menunjang kinerja mereka. Sedianya anjing yang akan dibeli TNI AD bakal digunakan untuk melengkapi kerja satuan khusus TNI AD, Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Meskipun demikian, TNI AD tak mau keinginan mereka mengganggu pos anggaran yang mereka miliki. "Kalau misal ada anggaran kami menyesuaikan," kata Kepala Staf Angkatan Darat, Pramono Edhie Baskoro, Rabu (17/10), di kompleks MPR/DPR, Senayan Jakarta.
Pramono mengungkapkan, anggaran yang disediakan untuk satu ekor anjing sebesar 600 dolar AS (sekitar Rp 5,7 juta), Artinya jika TNI AD berencana membeli 17 ekor anjing maka anggaran yang dibutuhkan adalah 10.200 dolar AS (sekitar Rp 98 juta).
Menurut Pramono harga, 600 dolar AS per ekor anjing tersebut tidak termasuk ongkos perawatan. Urusan perawatan, kata dia, akan diserahkan pada Kopassus. "Lebih baik kita berikan pada Kopassus yang memelihara dan Paspampres yang melaksanakan," ujarnya.
Saat ini satuan anjing yang dimiliki Kopassus berfungsi sebagai pelacak jejak sekaligus penyerang bila terjadi kejahatan.
Selain berencana membeli anjing pelacak, TNI AD juga berniat membeli sejumlah Helikopter Apache. Namun lantaran harganya mahal, TNI AD akan mengutamakan peruntukan anggaran pada keperluan yang lebih penting dan mendesak.
Sumber: Republika
Berita Pertahanan dan Keamanan, Industri Militer Indonesia dan Dunia, Wilayah Kedaulatan NKRI serta Berita Militer Negara Sahabat
Showing posts with label TNI AD. Show all posts
Showing posts with label TNI AD. Show all posts
Wednesday, October 17, 2012
Monday, October 8, 2012
TNI AD Modernisasi Alutsista
MRLS Astros II Mk 6 produksi Avibras, Brazil dipilih TNI AD untuk memodernisasi alutsista satuan kavaleri. Pihak pabrikan membawa dua unit Astros dalam pameran Alutsista TNI AD 2012 di Lapangan Monas. (Foto: Berita HanKam)
8 Oktober 2012, Jakarta: Modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negara sudah menjadi komitmen bersama pemerintah dan DPR.
Bahkan, realisasi untuk tujuan itu pun sudah ada dengan menaikkan anggaran pertahanan hingga lebih 77 triliun rupiah. Khusus di lingkungan TNI AD, modernisasi alutsista sudah direncanakan. Bahkan dalam waktu dekat ini, TNI AD berencana memesan alutsista dari negara Eropa, di antaranya Jerman dan Prancis.
Beberapa prototipe alutsista yang terbaru itu, di antaranya multiple launcher rocket system (MLRS) Astros II dan meriam 155 mm Caesar, juga alat-alat lainnya, diperlihatkan dalam pameran alutsista TNI di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Sabtu (6/10). Penegasan tersebut dikemukakan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Pramono Edhie Wibowo, di sela-sela pameran.
Dalam pameran yang dibuka oleh Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, itu pengunjung yang berasal dari kalangan masyarakat umum diperbolehkan melihat dari dekat, berfoto, bahkan mencoba menaiki sebagian besar alutsista yang dipamerkan. Pramono mengatakan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-67 TNI, khusus TNI AD ingin melaporkan diri peralatan apa saja yang digunakan dan akan digunakan dalam waktu segera oleh TNI AD. Pramono Edhie menyatakan melalui pameran ini, dia juga ingin memberikan pertanggungjawabannya selaku KSAD yang diberi amanat oleh Presiden dan rakyat untuk melakukan segala upaya dalam menjaga keutuhan bangsa.
Selain itu, lanjut Pramono Edhie, pihaknya berkenan menerima koreksi dari masyarakat setelah mereka melihat alutsista yang dipamerkan tersebut.
"Masyarakat bisa menilai sendiri melalui pameran ini, apakah kami melakukan langkah yang efi sien ataukah hanya menghabiskan anggaran yang dipungut dari pajak mereka. Setelah acara ini, saya berharap masyarakat semakin mengerti bahwa peralatan TNI AD seperti ini sehingga saya mohon dukung terus kepentingan untuk melengkapi alutsista AD sehingga akhirnya kami siap menjaga kedaulatan RI," papar Pramono.
Teknologi Militer
Sementara itu, melalui Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang), Mabes TNI memperkenalkan sejumlah hasil teknologi alutsista yang berhasil mereka ciptakan, di antaranya senapan mesin multilaras (gatling gun) dan monitor serangan panas (heat stroke monitor).
Kepala Subdinas Materiil Utama TNI AD, Kolonel (Kav) Rihananto, saat ditemui Sabtu, mengatakan pengembangan teknologi dilakukan untuk memenuhi minimum essential force, yakni suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh TNI AD dengan batas minimum yang bisa digunakan untuk pelaksanaan tugas pokok dari TNI AD, baik masalah operasi perang maupun selain perang. Gatling gun diciptakan Dislitbang TNI-AD untuk digunakan oleh satuan-satuan manuver dalam rangka penyerangan maupun pertahanan diri.
"Karena memiliki kemampuan daya tembak besar, dilihat dari segi amunisi yang dimuntahkan itu banyak sekali, yaitu antara 3.000–3.500, maka ini akan cocok menjadi aplikasi dari kecabangan lain di TNI AD," ujar dia.
Sumber: Koran Jakarta
8 Oktober 2012, Jakarta: Modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negara sudah menjadi komitmen bersama pemerintah dan DPR.
Bahkan, realisasi untuk tujuan itu pun sudah ada dengan menaikkan anggaran pertahanan hingga lebih 77 triliun rupiah. Khusus di lingkungan TNI AD, modernisasi alutsista sudah direncanakan. Bahkan dalam waktu dekat ini, TNI AD berencana memesan alutsista dari negara Eropa, di antaranya Jerman dan Prancis.
Beberapa prototipe alutsista yang terbaru itu, di antaranya multiple launcher rocket system (MLRS) Astros II dan meriam 155 mm Caesar, juga alat-alat lainnya, diperlihatkan dalam pameran alutsista TNI di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Sabtu (6/10). Penegasan tersebut dikemukakan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Pramono Edhie Wibowo, di sela-sela pameran.
Dalam pameran yang dibuka oleh Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, itu pengunjung yang berasal dari kalangan masyarakat umum diperbolehkan melihat dari dekat, berfoto, bahkan mencoba menaiki sebagian besar alutsista yang dipamerkan. Pramono mengatakan dalam rangka memperingati ulang tahun ke-67 TNI, khusus TNI AD ingin melaporkan diri peralatan apa saja yang digunakan dan akan digunakan dalam waktu segera oleh TNI AD. Pramono Edhie menyatakan melalui pameran ini, dia juga ingin memberikan pertanggungjawabannya selaku KSAD yang diberi amanat oleh Presiden dan rakyat untuk melakukan segala upaya dalam menjaga keutuhan bangsa.
Selain itu, lanjut Pramono Edhie, pihaknya berkenan menerima koreksi dari masyarakat setelah mereka melihat alutsista yang dipamerkan tersebut.
"Masyarakat bisa menilai sendiri melalui pameran ini, apakah kami melakukan langkah yang efi sien ataukah hanya menghabiskan anggaran yang dipungut dari pajak mereka. Setelah acara ini, saya berharap masyarakat semakin mengerti bahwa peralatan TNI AD seperti ini sehingga saya mohon dukung terus kepentingan untuk melengkapi alutsista AD sehingga akhirnya kami siap menjaga kedaulatan RI," papar Pramono.
Teknologi Militer
Sementara itu, melalui Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang), Mabes TNI memperkenalkan sejumlah hasil teknologi alutsista yang berhasil mereka ciptakan, di antaranya senapan mesin multilaras (gatling gun) dan monitor serangan panas (heat stroke monitor).
Kepala Subdinas Materiil Utama TNI AD, Kolonel (Kav) Rihananto, saat ditemui Sabtu, mengatakan pengembangan teknologi dilakukan untuk memenuhi minimum essential force, yakni suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh TNI AD dengan batas minimum yang bisa digunakan untuk pelaksanaan tugas pokok dari TNI AD, baik masalah operasi perang maupun selain perang. Gatling gun diciptakan Dislitbang TNI-AD untuk digunakan oleh satuan-satuan manuver dalam rangka penyerangan maupun pertahanan diri.
"Karena memiliki kemampuan daya tembak besar, dilihat dari segi amunisi yang dimuntahkan itu banyak sekali, yaitu antara 3.000–3.500, maka ini akan cocok menjadi aplikasi dari kecabangan lain di TNI AD," ujar dia.
Sumber: Koran Jakarta
Saturday, October 6, 2012
TNI AD Masih Mengkaji Jenis Helikopter Serang yang Akan Dibeli
Bell 412EP helikopter terbaru TNI AD. Helikopter dibuat di PT IPTN berdasarkan lisensi dari Bell Textron. Dibagian bawah hidung helikopter dipasang FLIR. Bentuk Bell 412EP mirip Bell 205 yang juga dioperasikan TNI AD. Perbedaan mencolok bilah rotor Bell 205 berjumlah 2 buah, sedangkan Bell 412EP 4 buah. (Foto: Berita HanKam)
7 Oktober 2012, Jakarta: Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) belum memastikan jenis helikopter serang yang bakal dibeli. Pasalnya, mereka harus melakukan kajian terlebih dahulu mengenai jenis yang cocok dengan kebutuhan.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menjelaskan, sekarang ini pihaknya sedang mempelajari jenis helikopter serang apa yang tepat untuk dibeli.“Ada banyak yang menjadi acuan, di antaranya ketersediaan anggaran,” katanya seusai pembukaan pameran alat utama sistem senjata (alutsista) di Monas, Jakarta, kemarin.
Faktor kemampuan anggaran ini memegang kendali besar dalam penentuan pilihan. Bahkan, bisa saja pilihan berubah setelah ditentukan jika ternyata anggaran tidak mencukupi. Dicontohkan Pramono, jika hasil kajian kebutuhan menghendaki TNI AD membeli helikopter serang jenis Apache, belum tentu hal itu lantas dipenuhi. “Kalau terlalu mahal, ya bagaimana. Tentu kami akan turunkan grade-nya agar sesuai dengan anggaran,”sebut dia.
Selain Apache produksi Amerika Serikat, ada cukup banyak jenis helikopter serang seperti Black Hawk dan Super Cobra. Ada pula produk dari Eurocopter. “Kami masih mengkaji semuanya, mana yang sesuai,”tuturnya. Bahkan, TNI AD juga berencana menggunakan helikopter buatan PT Dirgantara Indonesia bekerja sama dengan Eurocopter. Namun, ini untuk helikopter pengganti Bolcow.
Meski begitu, mantan Pangkostrad itu menegaskan bahwa TNI AD tidak akan membeli alutsista murahan. Sekalipun mencari yang harganya tidak mahal, dia menjamin itu adalah produk yang berkualitas. Alutsista yang dibeli juga harus dipastikan cocok dengan kemampuan pengguna, baik menyangkut pengoperasiannya maupun pemeliharaan dan perawatan.
Dia menganalogikan pengadaan sepeda motor untuk Babinsa. “Buat apa beli barang murah tapi setelah setahun dipakai tidak dapat digunakan lagi. Setelah rusak kita tidak bisa memperbaiki karena spare part tidak ada,” imbuhnya.
Sementara itu, Mabes TNI menyerahkan sepenuhnya proses penentuan pilihan jenis helikopter serbu ini kepada TNI AD selaku pemakainya. “Di dalam konteks pembangunan kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF) memang ada heli serang yang mau dibeli TNI AD. Heli serang itu bermacam-macam (jenisnya), saya serahkan sepenuhnya kepada TNI AD untuk mengkaji dan menentukan pilihannya,” kata Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono.
Dia menambahkan,Indonesia sekarang ini memang membutuhkan keberadaan helikopter jenis ini. Helikopter ini bisa digunakan untuk antigerilya atau counter insurgency.“Jadi, memang kita masih memerlukan helikopter tersebut,” ujarnya. Sebenarnya saat ini TNI AD sudah memiliki helikopter jenis serupa, yakni Mi-35P dari Rusia. Namun jumlahnya masih terbatas.
Sumber: SINDO
7 Oktober 2012, Jakarta: Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) belum memastikan jenis helikopter serang yang bakal dibeli. Pasalnya, mereka harus melakukan kajian terlebih dahulu mengenai jenis yang cocok dengan kebutuhan.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menjelaskan, sekarang ini pihaknya sedang mempelajari jenis helikopter serang apa yang tepat untuk dibeli.“Ada banyak yang menjadi acuan, di antaranya ketersediaan anggaran,” katanya seusai pembukaan pameran alat utama sistem senjata (alutsista) di Monas, Jakarta, kemarin.
Faktor kemampuan anggaran ini memegang kendali besar dalam penentuan pilihan. Bahkan, bisa saja pilihan berubah setelah ditentukan jika ternyata anggaran tidak mencukupi. Dicontohkan Pramono, jika hasil kajian kebutuhan menghendaki TNI AD membeli helikopter serang jenis Apache, belum tentu hal itu lantas dipenuhi. “Kalau terlalu mahal, ya bagaimana. Tentu kami akan turunkan grade-nya agar sesuai dengan anggaran,”sebut dia.
Selain Apache produksi Amerika Serikat, ada cukup banyak jenis helikopter serang seperti Black Hawk dan Super Cobra. Ada pula produk dari Eurocopter. “Kami masih mengkaji semuanya, mana yang sesuai,”tuturnya. Bahkan, TNI AD juga berencana menggunakan helikopter buatan PT Dirgantara Indonesia bekerja sama dengan Eurocopter. Namun, ini untuk helikopter pengganti Bolcow.
Meski begitu, mantan Pangkostrad itu menegaskan bahwa TNI AD tidak akan membeli alutsista murahan. Sekalipun mencari yang harganya tidak mahal, dia menjamin itu adalah produk yang berkualitas. Alutsista yang dibeli juga harus dipastikan cocok dengan kemampuan pengguna, baik menyangkut pengoperasiannya maupun pemeliharaan dan perawatan.
Dia menganalogikan pengadaan sepeda motor untuk Babinsa. “Buat apa beli barang murah tapi setelah setahun dipakai tidak dapat digunakan lagi. Setelah rusak kita tidak bisa memperbaiki karena spare part tidak ada,” imbuhnya.
Sementara itu, Mabes TNI menyerahkan sepenuhnya proses penentuan pilihan jenis helikopter serbu ini kepada TNI AD selaku pemakainya. “Di dalam konteks pembangunan kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF) memang ada heli serang yang mau dibeli TNI AD. Heli serang itu bermacam-macam (jenisnya), saya serahkan sepenuhnya kepada TNI AD untuk mengkaji dan menentukan pilihannya,” kata Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono.
Dia menambahkan,Indonesia sekarang ini memang membutuhkan keberadaan helikopter jenis ini. Helikopter ini bisa digunakan untuk antigerilya atau counter insurgency.“Jadi, memang kita masih memerlukan helikopter tersebut,” ujarnya. Sebenarnya saat ini TNI AD sudah memiliki helikopter jenis serupa, yakni Mi-35P dari Rusia. Namun jumlahnya masih terbatas.
Sumber: SINDO
Thursday, October 4, 2012
TNI AD Belum Final Memesan Apache
AS550 C3 Fennec in Marignane (France) dilengkapi Machine Gun POD HMP 400 ; Flir ; Stubwing. TNI AD telah memesan AS550 Fennec mempekuat satuan udaranya. (Foto: Eurocopter/PENNA Patrick)4 Oktober 2012, Jakarta: KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menjelaskan bahwa pihaknya belum membuat keputusan final soal pemesanan heli serang Apache. Pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Puspenerbad sebagai operator heli tersebut.
"Kami masih menimbang-nimbang antara Apache atau Blackhawk UH-60, Yang jelas kita pilih mana yang lebih murah tapi kualitas tetap baik," ujarnya tadi pagi di Mabes AD, Jakarta Pusat (4/5/2012).
Pramono juga memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin memberikan kritik dan masukan terhadap alutsista-alutsista terbaru yang akan dipesan TNI AD. Hal ini terkait dengan upaya TNI AD yang terus menggenjot program modernisasi alutsistanya.
"Silahkan komplain,misalnya kenapa pilih A, kenapa tidak B saja yang lebih unggul. Tapi jangan komplain karena ‘pesanan pihak tertentu’," jelasnya.
Beberapa alutsista yang telah dipesan TNI AD diantaranya Tank Leopard RI dari Jerman, roket MLRS Astros II, Fennec AS 550, dan teropong Trijicon untuk senapan SS 2 yang dipakai oleh Infanteri.
Dalam program modernisasi tersebut TNI AD berprinsip untuk memprioritaskan produk-produk buatan dalam negeri. TNI AD terus mendorong pihak-pihak terkait seperti PT Pindad dan PT DI untuk bisa mengembangkan produknya masing-masing hingga dapat digunakan oleh internal AD.
Pramono juga menjamin transparansi dalam pemilihan rekanan dan penggunaan budget. “Rekanan tetap kita pakai tapi kita pilih yang paling masuk akal harganya,” tegasnya.
Sumber: Angkasa
Anggaran Alutsista TNI AD Terkecil
Senapan serbu SS2 produksi PT PINDAD telah mengantarkan TNI AD meraih berbagai tropi kejuaraan menembak militer di luar negeri. (Foto: Berita HanKam)
4 Oktober 2012, Jakarta: Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal (TNI) Pramono Edhie Wibowo mengatakan bahwa anggaran belanja AD untuk pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) merupakan yang paling kecil di antara matra TNI yang lain.
"Anggaran alutsista AD paling kecil daripada AL atau AU, tapi itu tidak boleh membuat kecil hati. Justru bagaimana caranya supaya semaksimal mungkin digunakan," kata Edhie Wibowo di Jakarta, Kamis.
Jumlah anggaran untuk AD senilai Rp14 triliun, lebih kecil dari dua matra TNI yang bernilai Rp20 triliun dan Rp22 triliun, lanjutnya.
Dengan anggaran tersebut, TNI AD berencana untuk memperkuat dan memperbaharui alutsista, dengan membeli sejumlah peralatan persenjataan baru.
TNI AD Bangga Pakai Alutsista Dalam Negeri
Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), matra Angkatan Darat (AD) khususnya, bangga menggunakan peralatan dan perlengkapan senjata buatan dalam negeri, kata Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Pramono Edhie Wibowo di Jakarta, Kamis.
"...alat-alat yang diproduksi dalam negeri, itu harus kita gunakan," tegas Kasad.
Meskipun demikian, sempat ada perasaan tidak percaya diri dalam diri para prajurit ketika menggunakan senjata produksi PT Pindad.
Dia bercerita pernah bertemu dengan salah seorang prajurit yang secara terus terang lebih memilih menggunakan senjata lama buatan asing daripada senjata baru buatan PT Pindad.
"Dalam hal itu, si prajurit tidak bisa disalahkan karena dia memang terbiasa dengan senjata produk asing. Namun, ada juga beberapa prajurit yang mau menggunakan senjata produksi dalam negeri, tetapi harus disesuaikan dengan senjata asing yang sudah dimilki," jelasnya.
Kebanggaan para tentara AD dalam menggunakan senjata buatan dalam negeri muncul saat perlengkapan pertahanan itu berperan penting dalam sebuah kejuaraan tingkat ASEAN.
Ketika prajurit AD untuk pertama kalinya menggunakan senjata buatan PT Pindad di perlombaan menembak se-ASEAN, TNI AD berhasil membawa pulang sembilan dari 15 trofi yang diperebutkan di ajang tersebut.
"Hal itu belum pernah diraih oleh negara mana pun. Oleh karena itu, di sini saya ingin menegaskan bahwa sebetulnya jika kita mau mengoreksi diri, kita pasti bisa," katanya.
Sejak saat itu, TNI AD menggunakan senjata ringan produksi dalam negeri.
Namun, untuk alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang berat, seperti tank, TNI AD masih membelinya dari pihak asing.
Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan membeli 103 unit tank Leopard, 50 unit tank Marder dan 10 unit tank pendukung guna memperkuat sistem alutsista pertahanan Indonesia.
Salah satu dari peralatan persenjataan yang dibeli TNI AD dari pihak asing adalah tank Leopard yang akan tiba di tanah air sebanyak 44 unit pada November.
Sumber: ANTARA News
4 Oktober 2012, Jakarta: Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal (TNI) Pramono Edhie Wibowo mengatakan bahwa anggaran belanja AD untuk pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) merupakan yang paling kecil di antara matra TNI yang lain.
"Anggaran alutsista AD paling kecil daripada AL atau AU, tapi itu tidak boleh membuat kecil hati. Justru bagaimana caranya supaya semaksimal mungkin digunakan," kata Edhie Wibowo di Jakarta, Kamis.
Jumlah anggaran untuk AD senilai Rp14 triliun, lebih kecil dari dua matra TNI yang bernilai Rp20 triliun dan Rp22 triliun, lanjutnya.
Dengan anggaran tersebut, TNI AD berencana untuk memperkuat dan memperbaharui alutsista, dengan membeli sejumlah peralatan persenjataan baru.
TNI AD Bangga Pakai Alutsista Dalam Negeri
Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), matra Angkatan Darat (AD) khususnya, bangga menggunakan peralatan dan perlengkapan senjata buatan dalam negeri, kata Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Pramono Edhie Wibowo di Jakarta, Kamis.
"...alat-alat yang diproduksi dalam negeri, itu harus kita gunakan," tegas Kasad.
Meskipun demikian, sempat ada perasaan tidak percaya diri dalam diri para prajurit ketika menggunakan senjata produksi PT Pindad.
Dia bercerita pernah bertemu dengan salah seorang prajurit yang secara terus terang lebih memilih menggunakan senjata lama buatan asing daripada senjata baru buatan PT Pindad.
"Dalam hal itu, si prajurit tidak bisa disalahkan karena dia memang terbiasa dengan senjata produk asing. Namun, ada juga beberapa prajurit yang mau menggunakan senjata produksi dalam negeri, tetapi harus disesuaikan dengan senjata asing yang sudah dimilki," jelasnya.
Kebanggaan para tentara AD dalam menggunakan senjata buatan dalam negeri muncul saat perlengkapan pertahanan itu berperan penting dalam sebuah kejuaraan tingkat ASEAN.
Ketika prajurit AD untuk pertama kalinya menggunakan senjata buatan PT Pindad di perlombaan menembak se-ASEAN, TNI AD berhasil membawa pulang sembilan dari 15 trofi yang diperebutkan di ajang tersebut.
"Hal itu belum pernah diraih oleh negara mana pun. Oleh karena itu, di sini saya ingin menegaskan bahwa sebetulnya jika kita mau mengoreksi diri, kita pasti bisa," katanya.
Sejak saat itu, TNI AD menggunakan senjata ringan produksi dalam negeri.
Namun, untuk alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang berat, seperti tank, TNI AD masih membelinya dari pihak asing.
Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan membeli 103 unit tank Leopard, 50 unit tank Marder dan 10 unit tank pendukung guna memperkuat sistem alutsista pertahanan Indonesia.
Salah satu dari peralatan persenjataan yang dibeli TNI AD dari pihak asing adalah tank Leopard yang akan tiba di tanah air sebanyak 44 unit pada November.
Sumber: ANTARA News
Sunday, September 30, 2012
TNI Bentuk Satu Batalion Untuk Pengamanan Perbatasan di Kalimantan
(Foto: Aris/Yonif 611)
30 September 2012, Samarinda: Panglima Komando Daerah Militer VI Mulawarman Mayjend Subekti mengungkapkan, tahun 2013, pihaknya akan menambah satu batalion lagi untuk wilayah perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan. Tujuannya untuk menambah pengawasan di garis perbatasan yang sering terjadi praktek ilegal, termasuk illegal logging.
"Biar pengawasan semakin rapat, jadi tak ada lagi pencurian (kayu) di perbatasan," kata Mayor Jenderal Subekti di Samarinda, Ahad, 30 September 2012.
Ia mengungkapkan, penambahan batalion nantinya akan difokuskan untuk menjaga garis antara Malinau-Kutai Barat. Saat ini, menurut dia, ada 44 pos jaga di Kalimantan yang menjaga wilayah perbatasan sepanjang 2.004 kilometer, membentang dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Timur. Tapi, untuk garis batas di Kutai Barat, menurut Subekti, masih terlalu jauh jaraknya. "Tahun depan juga akan dibangun 29 pos baru," katanya.
Soal pergeseran patok perbatasan, kata dia, sejak enam bulan terakhir tak pernah terjadi. Memang ada pergeseran, tapi terjadi karena faktor alam, seperti longsor, sehingga patok bergeser. Itu pun, katanya, dikembalikan ke koordinat awal secara bersama-sama. "Kalau digeser tidak ada," ujarnya.
Subekti menambahkan, kondisi perbatasan yang terisolasi sampai sekarang memang menjadi masalah sosial di sepanjang perbatasan. Warga masih sangat bergantung pada Malaysia untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk BBM. "Harganya jadi mahal, tapi mau gimana lagi, mereka, ya beli juga," katanya.
Ia berharap pemerintah bisa menerapkan program yang menjawab kebutuhan rakyat. "Bangun infrastruktur di perbatasan sangat mendesak. Jangan dibandingkan dengan Malaysia, jauh tertinggal kita," katanya.
Sumber: TEMPO
30 September 2012, Samarinda: Panglima Komando Daerah Militer VI Mulawarman Mayjend Subekti mengungkapkan, tahun 2013, pihaknya akan menambah satu batalion lagi untuk wilayah perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan. Tujuannya untuk menambah pengawasan di garis perbatasan yang sering terjadi praktek ilegal, termasuk illegal logging.
"Biar pengawasan semakin rapat, jadi tak ada lagi pencurian (kayu) di perbatasan," kata Mayor Jenderal Subekti di Samarinda, Ahad, 30 September 2012.
Ia mengungkapkan, penambahan batalion nantinya akan difokuskan untuk menjaga garis antara Malinau-Kutai Barat. Saat ini, menurut dia, ada 44 pos jaga di Kalimantan yang menjaga wilayah perbatasan sepanjang 2.004 kilometer, membentang dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Timur. Tapi, untuk garis batas di Kutai Barat, menurut Subekti, masih terlalu jauh jaraknya. "Tahun depan juga akan dibangun 29 pos baru," katanya.
Soal pergeseran patok perbatasan, kata dia, sejak enam bulan terakhir tak pernah terjadi. Memang ada pergeseran, tapi terjadi karena faktor alam, seperti longsor, sehingga patok bergeser. Itu pun, katanya, dikembalikan ke koordinat awal secara bersama-sama. "Kalau digeser tidak ada," ujarnya.
Subekti menambahkan, kondisi perbatasan yang terisolasi sampai sekarang memang menjadi masalah sosial di sepanjang perbatasan. Warga masih sangat bergantung pada Malaysia untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk BBM. "Harganya jadi mahal, tapi mau gimana lagi, mereka, ya beli juga," katanya.
Ia berharap pemerintah bisa menerapkan program yang menjawab kebutuhan rakyat. "Bangun infrastruktur di perbatasan sangat mendesak. Jangan dibandingkan dengan Malaysia, jauh tertinggal kita," katanya.
Sumber: TEMPO
Thursday, September 27, 2012
Prajurit AD Timor Leste Akan Dilatih TNI AD
(Foto: Dispenad)
27 September 2012, Jakarta: Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal TNI Budiman menerima kunjungan kehormatan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata (Wapangab) Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) Brigjen Filomeno Da Paixao De Jesus beserta rombongan di Markas Besar Angkatan Darat, Kamis, (27/9).
Brigjen Filomeno Da Paixao De Jesus mengatakan, tujuan kunjungan untuk membuka kerjasama di bidang militer khususnya dengan Angkatan Darat, karena Angkatan Darat dianggap mitra yang paling tepat. TNI Angkatan Darat diharapkan memberi peluang kepada personel Timor Leste baik Perwira , Bintara dan Tamtama untuk mengikuti pendidikan militer di Indonesia. Republik Demokratik Timor Leste ingin meninggalkan masa lalu dan membangun masa depan bersama dengan TNI Angkatan Darat khususnya dalam bidang keamanan.
Wakasad Letjen TNI Budiman mengatakan, TNI AD akan membuka diri untuk bekerjasama dengan Angkatan Darat Timor Leste. Mengenai kerjasama pendidikan Bintara dan Tamtama dapat di latih di Rindam/ IX Udayana dan untuk perwiranya dapat dilatih di Bandung. Selain itu juga TNI AD akan memfasilitasi rencana Angkatan Bersenjata Timor Leste untuk membeli peralatan militer seperti senjata ke Pindad dan pakaian seragam militer ke Sritex.
Wapangab RDTL akan berada di Indonesia tanggal 26 sampai 30 September 2012. Selain melaksanakan kunjungan kehormatan kepada Wakasad di Mabesad, juga dijadwalkan untuk melaksanakan kunjungan ke satuan TNI AD lainnya yaitu di Kopassus dan Rindam Jaya serta mengunjungi PT. Sritex di Solo.
Saat menerima kunjungan kehormatan Wapangab Republik Demokratik Timor Leste beserta rombongan, Wakasad didampingi Aspam Kasad Mayjen TNI Eko Wiratmoko, Aspers Kasad Mayjen TNI Sunindyo, Kasahli Kasad Mayjen TNI Muktiyanto, Kadispenad Brigjen TNI Sisriadi dan Paban V/Hublu Spamad Kolonel Chb Ivan Ronald Pelealu. Usai kunjungan kehormatan dilanjutkan dengan tukar menukar plakat antara Wakasad dengan Wapangab Timor Leste.
Sumber: Dispenad
27 September 2012, Jakarta: Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal TNI Budiman menerima kunjungan kehormatan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata (Wapangab) Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) Brigjen Filomeno Da Paixao De Jesus beserta rombongan di Markas Besar Angkatan Darat, Kamis, (27/9).
Brigjen Filomeno Da Paixao De Jesus mengatakan, tujuan kunjungan untuk membuka kerjasama di bidang militer khususnya dengan Angkatan Darat, karena Angkatan Darat dianggap mitra yang paling tepat. TNI Angkatan Darat diharapkan memberi peluang kepada personel Timor Leste baik Perwira , Bintara dan Tamtama untuk mengikuti pendidikan militer di Indonesia. Republik Demokratik Timor Leste ingin meninggalkan masa lalu dan membangun masa depan bersama dengan TNI Angkatan Darat khususnya dalam bidang keamanan.
Wakasad Letjen TNI Budiman mengatakan, TNI AD akan membuka diri untuk bekerjasama dengan Angkatan Darat Timor Leste. Mengenai kerjasama pendidikan Bintara dan Tamtama dapat di latih di Rindam/ IX Udayana dan untuk perwiranya dapat dilatih di Bandung. Selain itu juga TNI AD akan memfasilitasi rencana Angkatan Bersenjata Timor Leste untuk membeli peralatan militer seperti senjata ke Pindad dan pakaian seragam militer ke Sritex.
Wapangab RDTL akan berada di Indonesia tanggal 26 sampai 30 September 2012. Selain melaksanakan kunjungan kehormatan kepada Wakasad di Mabesad, juga dijadwalkan untuk melaksanakan kunjungan ke satuan TNI AD lainnya yaitu di Kopassus dan Rindam Jaya serta mengunjungi PT. Sritex di Solo.
Saat menerima kunjungan kehormatan Wapangab Republik Demokratik Timor Leste beserta rombongan, Wakasad didampingi Aspam Kasad Mayjen TNI Eko Wiratmoko, Aspers Kasad Mayjen TNI Sunindyo, Kasahli Kasad Mayjen TNI Muktiyanto, Kadispenad Brigjen TNI Sisriadi dan Paban V/Hublu Spamad Kolonel Chb Ivan Ronald Pelealu. Usai kunjungan kehormatan dilanjutkan dengan tukar menukar plakat antara Wakasad dengan Wapangab Timor Leste.
Sumber: Dispenad
Monday, September 24, 2012
Yonif 900 Latihan Simulasi Penanggulangan Teroris
24 September 2012, Mataram: Batalyon Infanteri (Yonif) 900 Raider Kodam IX/Udayana menyergap sekelompok teroris yang beraksi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di Jalan Udayana, Kota Mataram, Senin.
Aksi penyergapan itu merupakan bagian dari simulasi penanggulangan terorisme yang dilakukan 50 orang prajurit Yonif 900 Raider Kodam IX/Udayana.
Kepala Staf Kodam (Kasdam) IX/Udayana Brigjen TNI Pratimun selaku penanggungjawab simulasi penanggulangan terorisme itu mengatakan, indikasi masuknya jaringan terorisme ke wilayah NTB bisa terjadi sewaktu-waktu.
"Maka itu pelatihan penanggulangan terorisme di wilayah NTB terutama di Kota Mataram perlu dilakukan. Latihan ini juga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi gerakan terorisme di wilayah NTB," ujarnya.
Menurut dia, ancaman terorisme di wilayah NTB tetap ada, meskipun tidak sebesar ancaman yang terjadi di wilayah lain.
Ancaman teroris tersebut bisa dilakukan dengan memanfaatkan berbagai cara, mengingat perkembangan tehnologi informasi yang terus berkembang.
Karena itu, latihan penanganan terorisme patut dilakukan setiap tahun, agar prajurit Yonif 900 Raider selaku pasukan pemukul Kodam Udayana, semakin mengenal daerah yang berpeluang mencuat gerakan terorisme.
"Ini pertama kali digelar di NTB dan setelah ini akan digelar di Nusa Tenggara Timur (NTT), sebelumnya latihan serupa digelar di Denpasar, Bali," ujar Pratimun.
Dalam skenario penyergapan teroris di gedung DPRD NTB itu, sebanyak 50 orang prajurit Yonif 900 Raider Kodam Udayana bersenjata lengkap menyerbu ke dalam gedung DPRD NTB diJalan Udayana Kota Mataram.
Satu unit helikopter dikerahkan, enam orang prajurit bersenjata lengkap dengan sigap turun dari helikopter menggunakan tali. Wajah mereka tampak tertutup masker.
Suasana di gedung DPRD NTB mencekam, dari dalam gedung wakil rakyat itu terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Suara bentakan serta jeritan juga terdengar jelas.
Sekitar 20 pegawai yang bertugas di DPRD NTB disandera enam orang kawanan teroris yang diduga merupakan kelompok jaringan Bali-Nusa Tenggara.
Dari luar gedung DPRD itu, tiga prajurit berupaya memanjat dinding di bagian kanan gedung berlantai tiga itu. Tim negosiasi juga terus berupaya mengalihkan perhatian teroris yang sudah menguasai gedung.
"Segera bebaskan kawan-kawan kami yang ditahan tanpa syarat. Kalau tidak kami akan bunuh semua sandera," teriak seorang teroris dari dalam gedung.
Jelang beberapa menit kembali terdengar suara tembakan dari dalam gedung bercat putih itu. Situasi semakin mencekam, terlebih para teroris juga meminta satu unit bus dan berjanji akan membebaskan sandera. Petugas pun bersedia mengikuti tuntutan teroris sehingga sejumlah sandera dibebaskan.
Tidak lama berselang seluruh petugas yang terdiri atas tim cepat langsung masuk kedalam gedung. Tiga teroris yang ada dilantai dua berhasil dilumpuhkan. Sementara tiga orang lainnya mencoba melarikan diri dengan bus sambil membawa paksa seorang sandera.
Belum jauh bus berjalan, tiba-tiba dua unit kendaraan pertempuran jarak dekat dan empat unit kendaraan roda dua menghadang pergerakan bus itu. Prajurit Raider kemudian mengepung dan memecahkan kaca bus. Prajurit Raider lainnya beraksi menggunakan helikopter.
Akhir dari skenario penyergapan kelompok teroris itu itu, keenam teroris berhasil dilumpuhkan tanpa ada korban jiwa di kalangan sandera.
Sumber: ANTARA News
Aksi penyergapan itu merupakan bagian dari simulasi penanggulangan terorisme yang dilakukan 50 orang prajurit Yonif 900 Raider Kodam IX/Udayana.
Kepala Staf Kodam (Kasdam) IX/Udayana Brigjen TNI Pratimun selaku penanggungjawab simulasi penanggulangan terorisme itu mengatakan, indikasi masuknya jaringan terorisme ke wilayah NTB bisa terjadi sewaktu-waktu.
"Maka itu pelatihan penanggulangan terorisme di wilayah NTB terutama di Kota Mataram perlu dilakukan. Latihan ini juga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi gerakan terorisme di wilayah NTB," ujarnya.
Menurut dia, ancaman terorisme di wilayah NTB tetap ada, meskipun tidak sebesar ancaman yang terjadi di wilayah lain.
Ancaman teroris tersebut bisa dilakukan dengan memanfaatkan berbagai cara, mengingat perkembangan tehnologi informasi yang terus berkembang.
Karena itu, latihan penanganan terorisme patut dilakukan setiap tahun, agar prajurit Yonif 900 Raider selaku pasukan pemukul Kodam Udayana, semakin mengenal daerah yang berpeluang mencuat gerakan terorisme.
"Ini pertama kali digelar di NTB dan setelah ini akan digelar di Nusa Tenggara Timur (NTT), sebelumnya latihan serupa digelar di Denpasar, Bali," ujar Pratimun.
Dalam skenario penyergapan teroris di gedung DPRD NTB itu, sebanyak 50 orang prajurit Yonif 900 Raider Kodam Udayana bersenjata lengkap menyerbu ke dalam gedung DPRD NTB diJalan Udayana Kota Mataram.
Satu unit helikopter dikerahkan, enam orang prajurit bersenjata lengkap dengan sigap turun dari helikopter menggunakan tali. Wajah mereka tampak tertutup masker.
Suasana di gedung DPRD NTB mencekam, dari dalam gedung wakil rakyat itu terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Suara bentakan serta jeritan juga terdengar jelas.
Sekitar 20 pegawai yang bertugas di DPRD NTB disandera enam orang kawanan teroris yang diduga merupakan kelompok jaringan Bali-Nusa Tenggara.
Dari luar gedung DPRD itu, tiga prajurit berupaya memanjat dinding di bagian kanan gedung berlantai tiga itu. Tim negosiasi juga terus berupaya mengalihkan perhatian teroris yang sudah menguasai gedung.
"Segera bebaskan kawan-kawan kami yang ditahan tanpa syarat. Kalau tidak kami akan bunuh semua sandera," teriak seorang teroris dari dalam gedung.
Jelang beberapa menit kembali terdengar suara tembakan dari dalam gedung bercat putih itu. Situasi semakin mencekam, terlebih para teroris juga meminta satu unit bus dan berjanji akan membebaskan sandera. Petugas pun bersedia mengikuti tuntutan teroris sehingga sejumlah sandera dibebaskan.
Tidak lama berselang seluruh petugas yang terdiri atas tim cepat langsung masuk kedalam gedung. Tiga teroris yang ada dilantai dua berhasil dilumpuhkan. Sementara tiga orang lainnya mencoba melarikan diri dengan bus sambil membawa paksa seorang sandera.
Belum jauh bus berjalan, tiba-tiba dua unit kendaraan pertempuran jarak dekat dan empat unit kendaraan roda dua menghadang pergerakan bus itu. Prajurit Raider kemudian mengepung dan memecahkan kaca bus. Prajurit Raider lainnya beraksi menggunakan helikopter.
Akhir dari skenario penyergapan kelompok teroris itu itu, keenam teroris berhasil dilumpuhkan tanpa ada korban jiwa di kalangan sandera.
Sumber: ANTARA News
Sunday, September 23, 2012
TNI AD Masih Kaji Pembelian Apache
AH-64D Apache Block III saat terbang di padang pasir dekat fasilitas Boeing, Meza, Arizona dalam uji terbang perdana, Juli 2008. (Foto: Boeing)
23 September 2012, Jakarta: Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menjelaskan TNI Angkatan Darat (AD) masih melakukan pengkajian terkait rencana pembelian delapan unit helikopter serbu, Apache dari Amerika Serikat. Pertimbangan lainnya TNI AD membeli Black Hawk.
"Saya serahkan sepenuhnya kepada TNI AD untuk mengkaji dan menentukan pilihannya karena pembinanya Angkatan Darat, penggunanya memang Panglima TNI. Saya hanya melihat konteks dalam penggunaan ketiga matra apakah bisa kita satukan atau tidak. Kalau semuanya memungkinkan, kita akan lakukan bersama-bersama," papar Agus, Ahad (23/9).
Penggunaan helikopter serbu, seperti Apache ini cukup banyak, salah satunya bisa digunakan untuk lawan "insurgency".
"Jadi, memang kita masih memerlukan helikopter tersebut," ujarnya.
Pemerintah sendiri belum menyiapkan langkah apapun terkait rencana pengadaan helikopter serbu Apache dari AS ini. Bahkan, pemerintah belum pernah melakukan pengajuan resmi untuk membeli alat utama sistem senjata (alutsista) tersebut.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal TNI Hartind Asrin sebelumnya mengatakan, selama ini memang sudah ada lobi-lobi antara kedua negara terkait kemungkinan pengadaan helikopter serbu Apache itu.
"Namun, sejauh ini Indonesia belum memersiapkan apa-apa. Kita tunggu surat penawaran resmi dari mereka. Bukan kita yang mengajukan, mereka yang menawarkan. Kita hanya berpesan kalau mau jual Apache, tolong kita diberi tahu," tutur Hartind.
Jika surat penawaran tersebut diterima, lanjut dia maka akan ada tim yang dikirim ke Amerika Serikat guna melakukan pengecekan berbagai hal, seperti spesifikasi teknis helikopter, dan perlengkapan persenjataan. Tim tersebut berasal dari TNI Angkatan Darat, selaku calon pengguna Apache.
Selanjutnya, tim melakukan pemaparan kepada Mabes TNI untuk kemudian diteruskan ke Kementerian Pertahanan dan dilakukan rapat anggaran. Tim teknis biasanya disiapkan dulu. Biasanya dari mereka ada surat penawaran resmi, ujarnya.
Sumber: Metrotvnews
23 September 2012, Jakarta: Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menjelaskan TNI Angkatan Darat (AD) masih melakukan pengkajian terkait rencana pembelian delapan unit helikopter serbu, Apache dari Amerika Serikat. Pertimbangan lainnya TNI AD membeli Black Hawk.
"Saya serahkan sepenuhnya kepada TNI AD untuk mengkaji dan menentukan pilihannya karena pembinanya Angkatan Darat, penggunanya memang Panglima TNI. Saya hanya melihat konteks dalam penggunaan ketiga matra apakah bisa kita satukan atau tidak. Kalau semuanya memungkinkan, kita akan lakukan bersama-bersama," papar Agus, Ahad (23/9).
Penggunaan helikopter serbu, seperti Apache ini cukup banyak, salah satunya bisa digunakan untuk lawan "insurgency".
"Jadi, memang kita masih memerlukan helikopter tersebut," ujarnya.
Pemerintah sendiri belum menyiapkan langkah apapun terkait rencana pengadaan helikopter serbu Apache dari AS ini. Bahkan, pemerintah belum pernah melakukan pengajuan resmi untuk membeli alat utama sistem senjata (alutsista) tersebut.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal TNI Hartind Asrin sebelumnya mengatakan, selama ini memang sudah ada lobi-lobi antara kedua negara terkait kemungkinan pengadaan helikopter serbu Apache itu.
"Namun, sejauh ini Indonesia belum memersiapkan apa-apa. Kita tunggu surat penawaran resmi dari mereka. Bukan kita yang mengajukan, mereka yang menawarkan. Kita hanya berpesan kalau mau jual Apache, tolong kita diberi tahu," tutur Hartind.
Jika surat penawaran tersebut diterima, lanjut dia maka akan ada tim yang dikirim ke Amerika Serikat guna melakukan pengecekan berbagai hal, seperti spesifikasi teknis helikopter, dan perlengkapan persenjataan. Tim tersebut berasal dari TNI Angkatan Darat, selaku calon pengguna Apache.
Selanjutnya, tim melakukan pemaparan kepada Mabes TNI untuk kemudian diteruskan ke Kementerian Pertahanan dan dilakukan rapat anggaran. Tim teknis biasanya disiapkan dulu. Biasanya dari mereka ada surat penawaran resmi, ujarnya.
Sumber: Metrotvnews
Friday, September 21, 2012
Markas Korem 142/Taroada Tarogau Digeser ke Mamuju
Markas Korem 142 Taroada Tarogau. (Foto: Kodam VII/Wirabuana)
21 September 2012, Mamuju, Sulawesi Barat: Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Muhammad Nizam, mengemukakan, kemungkinan besar Korem 142/Taroda Tarogau yang berkedudukan di kota Parepare, Sulawesi Selatan, akan dipindahkan ke Mamuju, ibukota Sulawesi Barat.
"Saat ini kami telah melakukan kajian terkait rencana pembangunan Markas Korem di Mamuju. Alternatif terburuk memindahkan Markas Korem 142/Taroada Tarogau di Parepare ke Mamuju," kata Nizam, dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Sulawesi Barat, di Mamuju.
Menurutnya, kajian ini dilakukan untuk menjawab permintaan Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Saleh, yang selama ini telah lama menyiapkan lahan untuk pembangunan Korem di Mamuju.
Nizam mengatakan, jika nanti Korem 142/Taroda Tarogau ini dipindahkan maka wilayah kerjanya tetap membawahkan 10 Kodim dan satu batalyon infanteri, di antaranya Kodim1401/Majene di Majene, Kodim 1402/Polmas (Polewali), Kodim 1403/Luwu (Palopo), Kodim 1404/Pinrang (Pinrang), Kodim 1405/Parepare (Parepare), Kodim 1414/Tana Toraja (Tana Toraja).
Kemudian kata dia, Kodim 1418/Mamaju berkedudukan di Mamuju, Kodim 1419/Enrekang berkedudukan di Enrekang, Kodim 1420/Sidrap berkedudukan di Pangkajene, Kodim 1421/Pangkep berkedudukan di Pangkajene dan Yonif Ter/721 berkedudukan di Benteng Pinrang.
Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Adnan Saleh, menyambut baik jika rencana pemindahan Korem Taroda Tarogau yang selama ini berkedudukan di Pare-Pare dipindahkan ke Mamuju.
"Saat ini pemerintah sudah lama menyiapkan lahan untuk pembangunan Markas Korem di Mamuju yang lokasinya tidak jauh dari kantor gubernur yakni di Kelurahan Rangas Kecamatan Simboro,"katanya.
Sumber: ANTARA News
21 September 2012, Mamuju, Sulawesi Barat: Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Muhammad Nizam, mengemukakan, kemungkinan besar Korem 142/Taroda Tarogau yang berkedudukan di kota Parepare, Sulawesi Selatan, akan dipindahkan ke Mamuju, ibukota Sulawesi Barat.
"Saat ini kami telah melakukan kajian terkait rencana pembangunan Markas Korem di Mamuju. Alternatif terburuk memindahkan Markas Korem 142/Taroada Tarogau di Parepare ke Mamuju," kata Nizam, dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Sulawesi Barat, di Mamuju.
Menurutnya, kajian ini dilakukan untuk menjawab permintaan Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Saleh, yang selama ini telah lama menyiapkan lahan untuk pembangunan Korem di Mamuju.
Nizam mengatakan, jika nanti Korem 142/Taroda Tarogau ini dipindahkan maka wilayah kerjanya tetap membawahkan 10 Kodim dan satu batalyon infanteri, di antaranya Kodim1401/Majene di Majene, Kodim 1402/Polmas (Polewali), Kodim 1403/Luwu (Palopo), Kodim 1404/Pinrang (Pinrang), Kodim 1405/Parepare (Parepare), Kodim 1414/Tana Toraja (Tana Toraja).
Kemudian kata dia, Kodim 1418/Mamaju berkedudukan di Mamuju, Kodim 1419/Enrekang berkedudukan di Enrekang, Kodim 1420/Sidrap berkedudukan di Pangkajene, Kodim 1421/Pangkep berkedudukan di Pangkajene dan Yonif Ter/721 berkedudukan di Benteng Pinrang.
Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Adnan Saleh, menyambut baik jika rencana pemindahan Korem Taroda Tarogau yang selama ini berkedudukan di Pare-Pare dipindahkan ke Mamuju.
"Saat ini pemerintah sudah lama menyiapkan lahan untuk pembangunan Markas Korem di Mamuju yang lokasinya tidak jauh dari kantor gubernur yakni di Kelurahan Rangas Kecamatan Simboro,"katanya.
Sumber: ANTARA News
TNI Bangun Batalyon Kaveleri Tank di Kalimantan Barat
(Foto: Pendam XII/Tpr)
21 September 2012, Kubu Raya: Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen TNI Budiman dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Kodam XII/Tpr meninjau lahan tanah yang akan didirikan Batalyon Kaveleri Tank di Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya Kalbar. Lokasi ini mempunyai jarak kurang lebih 17,7 KM dari Makodam XII/Tpr dan luas tanah ini lebih kurang 110 Ha.
Dalam peninjauannya, Wakasad mempertimbangkan kondisi tanah di lokasi yang kurang cocok untuk Alutsista Kaveleri Tank, tanah tersebut bila musim hujan datang akan menjadi kendala utama bagi Batalyon Kaveleri. Pertimbangan selanjutnya untuk kehidupan para keluarga prajuritnya, karena daerah tersebut masih jauh dari fasilitas pendidikan bagi anak-anak. Maka dengan beberapa pertimbangan tersebut Wakasad beserta rombongan meninjau ke tempat lahan alternatife lainnya, yang berlokasi di Sungai Burung Peniti, Kecamatan Jungkat Kabupaten Pontianak.
Lahan tanah lokasi ini menurutnya sangat cocok untuk Batalyon Kaveleri, karena kondisi tanahnya cukup memadai untuk alutsista Yonkav Tank, dan juga untuk fasilitas pendidikan cukup memadai juga. Sehingga diambil keputusan secara lisan, Wakasad menetapkan untuk lahan Yonkav Tank yang akan dibangun berada di Sungai Burung Peniti Kecamatan Jungkat Kabupaten Pontianak.
Dalam peninjauannya, Wakasad didampingi oleh beberapa para stafnya antara lain Asrena Kasad Mayjen TNI Dicky W Usman, S.IP., M.SI, Waaslog Kasad Brigjen TNI Bayu Purwiyono, Danpussenkav Kodiklat TNI AD Brigadir Jenderal TNI Purwadi Mukson, S. Ip. dan Pangdam XII/Tpr Mayjen TNI Ridwan serta beberapa Asisten Kasdam XII/Tpr.
Sumber: Pendam XII/Tpr
21 September 2012, Kubu Raya: Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen TNI Budiman dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Kodam XII/Tpr meninjau lahan tanah yang akan didirikan Batalyon Kaveleri Tank di Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya Kalbar. Lokasi ini mempunyai jarak kurang lebih 17,7 KM dari Makodam XII/Tpr dan luas tanah ini lebih kurang 110 Ha.
Dalam peninjauannya, Wakasad mempertimbangkan kondisi tanah di lokasi yang kurang cocok untuk Alutsista Kaveleri Tank, tanah tersebut bila musim hujan datang akan menjadi kendala utama bagi Batalyon Kaveleri. Pertimbangan selanjutnya untuk kehidupan para keluarga prajuritnya, karena daerah tersebut masih jauh dari fasilitas pendidikan bagi anak-anak. Maka dengan beberapa pertimbangan tersebut Wakasad beserta rombongan meninjau ke tempat lahan alternatife lainnya, yang berlokasi di Sungai Burung Peniti, Kecamatan Jungkat Kabupaten Pontianak.
Lahan tanah lokasi ini menurutnya sangat cocok untuk Batalyon Kaveleri, karena kondisi tanahnya cukup memadai untuk alutsista Yonkav Tank, dan juga untuk fasilitas pendidikan cukup memadai juga. Sehingga diambil keputusan secara lisan, Wakasad menetapkan untuk lahan Yonkav Tank yang akan dibangun berada di Sungai Burung Peniti Kecamatan Jungkat Kabupaten Pontianak.
Dalam peninjauannya, Wakasad didampingi oleh beberapa para stafnya antara lain Asrena Kasad Mayjen TNI Dicky W Usman, S.IP., M.SI, Waaslog Kasad Brigjen TNI Bayu Purwiyono, Danpussenkav Kodiklat TNI AD Brigadir Jenderal TNI Purwadi Mukson, S. Ip. dan Pangdam XII/Tpr Mayjen TNI Ridwan serta beberapa Asisten Kasdam XII/Tpr.
Sumber: Pendam XII/Tpr
Monday, September 17, 2012
Yonif 700/Raider Latihan Pembebasan Kapal
17 September 2012, Makassar: Sejumlah anggota Tim Penanggulangan Teror (Gultor) Yonif 700/Raider menaiki kapal yang telah dibajak pada simulasi penanggulangan teroris di Perairan Makassar, Sulsel, Senin (17/9). Latihan penanggulangan teroris oleh Yonif 700/Raider Kodam VII Wirabuana sebagai kesiapan TNI AD dalam membantu Polri untuk membebaskan sandera dari kapal yang dibajak oleh teroris. (Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/ed/ama/12)
Sunday, September 16, 2012
Yonif 700 Latihan Simulasi Penyelamtan Sandera
16 September 2012, Makassar: Prajurit TNI Batalion Raider Yonif 700 Kodam VII Wirabuana bersiaga dengan persenjataan lengkap saat simulasi operasi penyelamatan sandera di Trans Mall, Makassar, Sulsel, Minggu (16/9). Latihan yang merupakan rangkaian untuk penanggulangan teror itu menyiapkan prajurit TNI dalam satu pertempuran jarak pendek dengan durasi waktu yang singkat. Unsur mendadak, ketepatan, dan kecepatan gerak prajurit sangat menentukan keberhasilan operasi. (Foto: ANTARA/Dewi Fajriani/pd/12)
Saturday, September 8, 2012
Yonif 700 Latihan Gultor di Makassar
7 September 2012, Makassar: Pasukan TNI Batalion Raider Yonif 700 Kodam VII Wirabuana melakukan latihan Penanggulangan Teror (Gultor) di bangunan hotel Pena Mas, Makassar, Sulsel, Jumat (7/9). Latihan tersebut untuk meningkatkan dan memelihara kualitas Prajurit TNI serta kesiapan operasional Prajurit dalam menghadapi aksi terorisme yang mengancam keamanan NKRI. (Foto: ANTARA/Dewi Fajriani/ed/mes/12)
Tuesday, September 4, 2012
Brigade Tim Tempur Kostrad Lumpuhkan Sasaran Musuh
4 September 2012, Martapura: Dengan semangat pantang menyerah, pasukan Brigade Tim Pertempuran (BTP) 9/Kostrad yang terlibat dalam Latihan antar kecabangan tingkat Brigade tahun 2012 berhasil melumpuhkan beberapa sasaran.
Dalam latihan tersebut para prajurit TNI Angkatan Darat dengan berbagai kecabangan bersinergi dalam satu misi berhasil menghancurkan musuh yang ingin membentuk negara baru (Neba) di Wilayah Sumatera Selatan. Latihan tersebut puncaknya ketika materi serangan dengan menggempur musuh pada Senin (03/09).
Musuh yang berkekuatan satu batalyon berhasil di bumi hanguskan oleh Pasukan BTP yang teridiri dari Yonif Linud 501, Yonif 509, Yonif 514 Raider, 1 Kompi Mekanis Yonif 201, 1 Ki Kav Tank 8, 2 Rai Armed (1 Rai Meriam 76 tarik ; 1 Rai Armed Meriam 105 tarik), 1 Rai Arhanudri RBS 70, 1 Kompi Zipur 10, 1 Squadron Penerbad. Selain itu juga didukung oleh satuan Banmin yang terdiri dari Perhubungan, Peralatan, Pembekalan dan Angkutan, Polisi Militer, Kesehatan, Satgas Penerangan dan Satgas lainnya.
Dalam latihan antar kecabangan tingkat Brigade hadir para Pangkotama TNI AD dan disaksikan langsung oleh KASAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wiboyo yang terus memantau latihan yang dimulai tepat pada pukul 08.00 dan berakhir hingga pukul 12.30 wib. Latihan yang telah diperagakan oleh para prajurit TNI AD dapat disaksikan langsung di titik tinjau tamu Puslatpur Baturaja yang luasnya mencapai sekitar kurang lebih 42.000 Ha.
Setelah sasaran musuh berhasil direbut di tempat konsolidasi, Pramono Edhie Wibowo melakukan pengarahan kepada sejumlah prajurit yang terlibat dalam latihan tersebut. Dalam latihan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edi Wibowo memberi apresiasi yang tinggi kepada para pelaku latihan antar kecabangan tersebut karena melakukan dengan penuh semangat dan dalam keadaan aman.
Lebih lanjut dikatakan bahwa latihan ancab tingkat brigade merupakan latihan terbesar yang pernah dilakukan oleh TNI AD pada tingkat Brigade pada kurun beberapa tahun terakhir ini. Sebab latihan tingkat brigade hanya pernah dilakukan pada tahun 1996. Setelah itu tidak pernah dilakukan lagi akibat berbagai kendala. KASAD juga dalam arahannya memberikan penekanan bahwa keberhasilan dalam latihan ini bukanlah merupakan akhir segalanya. Sebab latihan ini dianggap berhasil apabila selamat hingga sampai ditempat tujuan dengan selamat sampai hingga ketemu keluarga kembali.
Kedepan latihan diharapkan agar lebih disempurnakan lagi dengan memberikan masukan yang bersifat konsruktif dalam mekanisme latihan baik secara taktis maupun teknis sehingga kedepannya akan lebih baik dan lebih profesional lagi dalam menjalankan latihan khususnya ditubuh TNI Angkatan Darat.
Sumber: Satgaspen
Monday, September 3, 2012
KASAD: Peralatan Perang Tua TNI AD Diupayakan Diganti
(Foto: Puslatpur)
4 September 2012, Palembang: Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, banyak peralatan perang sekarang ini sudah berusia tua, sehingga tidak efektif lagi digunakan.
Bahkan ada tank yang umurnya lebih tua yakni pengadaan tahun 1954, kata Ksad saat ramah tamah dengan jajaran Pemerintah Provinsi Sumsel di Palembang, Senin malam.
Dalam ramah tamah tersebut dihadiri langsung Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dan Kapolda Irjen Pol Dikdik Mulyana A Mansyur.
Lebih lanjut Ksad mengatakan, saat melaksanakan peninjauan latihan bersama di Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur lalu peralatan yang digunakan jauh tertinggal.
Oleh karena itu pihaknya berupaya agar peralatan tersebut diganti yang terbaik, kata dia.
Bahkan, pihaknya telah membeli peralatan dari luar negeri yang lebih canggih dan nantinya Kodam II/Sriwijaya akan mendapatkan.
Peralatan canggih sangat mendukung kekuatan prajurit sehingga itu perlu dimaksimalkan, kata dia.
Begitu juga sarana transportasi, Kodam II/Sriwijaya akan mendapatkan bantuan helikopter.
Dalam kesempatan itu Ksad juga berharap, agar prajurit TNI dan Polri serta masyarakat harus selalu kompak, maka kondisi keamanan akan selalu tercipta.
Gubernur menyatakan menyambut baik atas kehadiran Ksad di provinsi ini karena itu sebagai kehormatan bagi masyarakat Sumsel.
Dalam kesempatan itu gubernur juga menjelaskan tentang potensi daerah Sumsel yang cukup kaya akan sumber daya alam.
Sumber: ANTARA News
4 September 2012, Palembang: Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, banyak peralatan perang sekarang ini sudah berusia tua, sehingga tidak efektif lagi digunakan.
Bahkan ada tank yang umurnya lebih tua yakni pengadaan tahun 1954, kata Ksad saat ramah tamah dengan jajaran Pemerintah Provinsi Sumsel di Palembang, Senin malam.
Dalam ramah tamah tersebut dihadiri langsung Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dan Kapolda Irjen Pol Dikdik Mulyana A Mansyur.
Lebih lanjut Ksad mengatakan, saat melaksanakan peninjauan latihan bersama di Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur lalu peralatan yang digunakan jauh tertinggal.
Oleh karena itu pihaknya berupaya agar peralatan tersebut diganti yang terbaik, kata dia.
Bahkan, pihaknya telah membeli peralatan dari luar negeri yang lebih canggih dan nantinya Kodam II/Sriwijaya akan mendapatkan.
Peralatan canggih sangat mendukung kekuatan prajurit sehingga itu perlu dimaksimalkan, kata dia.
Begitu juga sarana transportasi, Kodam II/Sriwijaya akan mendapatkan bantuan helikopter.
Dalam kesempatan itu Ksad juga berharap, agar prajurit TNI dan Polri serta masyarakat harus selalu kompak, maka kondisi keamanan akan selalu tercipta.
Gubernur menyatakan menyambut baik atas kehadiran Ksad di provinsi ini karena itu sebagai kehormatan bagi masyarakat Sumsel.
Dalam kesempatan itu gubernur juga menjelaskan tentang potensi daerah Sumsel yang cukup kaya akan sumber daya alam.
Sumber: ANTARA News
KSAD: Anggaran Latihan TNI-AD Naik 157 persen
(Foto: Puslatpur)
4 September 2012, Palembang: Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, anggaran latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat pada 2012 mengalami kenaikan 157 persen dibandingkan tahun 2011.
Oleh karena itu, pihaknya pada 5 Oktober 2012 juga akan menambah jumlah peralatan tempur berupa roket, meriam dan tank, kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo tanpa merinci jumlah anggaran dimaksud pada kunjungannya ke Sumatera Selatan melihat dari dekat Latihan Tempur Antar-Cabang TNI AD di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklat TNI AD Ogan Komering Ulu, Senin.
Dikemukakannya, dengan adanya penambahan peralatan itu, maka pihaknya mulai tahun ini akan menghidupkan kembali dua Bataliyon Tank, dua Bataliyon Roket dan dua Bataliyon Meriam di seluruh Artileri Medan (Armed).
Sementara, Komandan Brigif 92 Kostrad Letkol Inf Suparlan secara terpisah menjelaskan, latihan tempur tersebut perencanaannya sudah dilakukan sejak dua hari lalu untuk memaksimalkan seluruh persenjataan yang dimiliki TNI AD.
Mengenai senjata berat selama latihan tempur itu, Ia mengatakan bahwa telah meluncurkan 140 hingga 200 unit roket, 200 unit meriam, 16 unit tank scorpion, kendaraan tempur anoa dan 3.000 personil untuk memukul mundur musuh.
Skenario pelatihan sendiri, kata dia, dimulai dengan perjalanan seluruh Ancab TNI AD dari Jawa Timur (Jatim) yang melintasi laut dengan menggunakan fasilitas enam unit kapal perang.
Selanjutnya diutus tim penyusup di lokasi musuh dan akhirnya jumlah kekuatan pasukan tempur negara baru tersebut bisa diketahui, yakni hanya satu bataliyon.
"Setelah itu kita langsung melakukan penyerangan dengan kekuatan penuh, namun sebelumnya 1.500 warga sekitar kami ungsikan terlebih dahulu ke tempat aman," katanya menjelaskan.
Sementara itu, bagi 1.500 pengungsi yang diamankan di Batumarta Unit I, Ogan Komering Ulu (OKU) mendapatkan pemulihan mental, pengobatan dan lain sebagainya oleh pasukan TNI AD dari Kodim 0403 OKU.
"Dalam latihan ini, para pengungsi juga kita beri tempat berlindung dan akomodasi, serta kebutuhan lainnya agar mereka bisa nyaman dan bertahan hidup selama pertempuran," kata Wadansatgas Ter Lat Ancab BTP, Mayor Suhardi menambahkan.
Sementara di Palembang, Senin malam KSAD mengadakan ramah tamah dengan Gubernur H Alex Noerdin beserta jajaran pejabat di lingkungan Pemprov Sumatera Selatan.
Sumber: ANTARA News
4 September 2012, Palembang: Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, anggaran latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat pada 2012 mengalami kenaikan 157 persen dibandingkan tahun 2011.
Oleh karena itu, pihaknya pada 5 Oktober 2012 juga akan menambah jumlah peralatan tempur berupa roket, meriam dan tank, kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo tanpa merinci jumlah anggaran dimaksud pada kunjungannya ke Sumatera Selatan melihat dari dekat Latihan Tempur Antar-Cabang TNI AD di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklat TNI AD Ogan Komering Ulu, Senin.
Dikemukakannya, dengan adanya penambahan peralatan itu, maka pihaknya mulai tahun ini akan menghidupkan kembali dua Bataliyon Tank, dua Bataliyon Roket dan dua Bataliyon Meriam di seluruh Artileri Medan (Armed).
Sementara, Komandan Brigif 92 Kostrad Letkol Inf Suparlan secara terpisah menjelaskan, latihan tempur tersebut perencanaannya sudah dilakukan sejak dua hari lalu untuk memaksimalkan seluruh persenjataan yang dimiliki TNI AD.
Mengenai senjata berat selama latihan tempur itu, Ia mengatakan bahwa telah meluncurkan 140 hingga 200 unit roket, 200 unit meriam, 16 unit tank scorpion, kendaraan tempur anoa dan 3.000 personil untuk memukul mundur musuh.
Skenario pelatihan sendiri, kata dia, dimulai dengan perjalanan seluruh Ancab TNI AD dari Jawa Timur (Jatim) yang melintasi laut dengan menggunakan fasilitas enam unit kapal perang.
Selanjutnya diutus tim penyusup di lokasi musuh dan akhirnya jumlah kekuatan pasukan tempur negara baru tersebut bisa diketahui, yakni hanya satu bataliyon.
"Setelah itu kita langsung melakukan penyerangan dengan kekuatan penuh, namun sebelumnya 1.500 warga sekitar kami ungsikan terlebih dahulu ke tempat aman," katanya menjelaskan.
Sementara itu, bagi 1.500 pengungsi yang diamankan di Batumarta Unit I, Ogan Komering Ulu (OKU) mendapatkan pemulihan mental, pengobatan dan lain sebagainya oleh pasukan TNI AD dari Kodim 0403 OKU.
"Dalam latihan ini, para pengungsi juga kita beri tempat berlindung dan akomodasi, serta kebutuhan lainnya agar mereka bisa nyaman dan bertahan hidup selama pertempuran," kata Wadansatgas Ter Lat Ancab BTP, Mayor Suhardi menambahkan.
Sementara di Palembang, Senin malam KSAD mengadakan ramah tamah dengan Gubernur H Alex Noerdin beserta jajaran pejabat di lingkungan Pemprov Sumatera Selatan.
Sumber: ANTARA News
Latihan Terbesar Sepanjang Sejarah TNI AD Dimulai
(Foto: Puslatpur)
3 September 2012, Martapura: Latihan Antarkecabangan Tingkat Brigade yang dilakukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) di wilayah Objek Militer Baturaja (Omiba), Sumatera Selatan (Sumsel), merupakan latihan terbesar yang pernah dilakukan sepanjang sejarah TNI AD.
Latihan yang puncaknya akan dilaksanakan pada Senin (3/9) ini akan menggunakan seluruh persenjataan yang dimiliki TNI AD. Komandan Korps Pendidikan Latihan TNI AD Letnan Jenderal TNI Gatot Nuryanto mengatakan, persenjataan tua dan yang paling canggih, baik buatan dalam maupun luar negeri, akan digunakan dalam latihan tempur tersebut. “Kita punya senjata serbu, yang kualitasnya diakui oleh dunia yang dibuat oleh Pindad.
Pasukan khusus kita sudah menggunakannya, selanjutnya kita juga akan menggunakan senjata meriam kaliber 105, kaliber 76, dan mortir berkaliber 81,” ujar jenderal bintang tiga ini. Menurut dia, di samping persenjataan lengkap, anggota TNI AD juga didukung peralatan tempur canggih udara, seperti helikopter tempur Mi-35P, Mi-17,dan helikopter Bell serta helikopter Bolcow yang berjumlah sekitar 18 unit.
“Kita tidak akan main-main dengan latihan kali ini. Senjata yang digunakan adalah senjata tercanggih dan terbaru, peralatan tua dan yang terbaru. Bisa dikatakan dari persenjataan kakek-kakek sampai anak cucu digunakan dalam latihan tempur antar kecabangan ini,” ungkap Gatot. Dia menjelaskan, latihan tempur kali ini juga didukung oleh puluhan tank Scorpion, belasan panser Anoa serta peralatan tempur pendukung lainnya. selain itu, dalam pelatihan tempur antar kecabangan itu juga akan melibatkan 4.300 anggota TNI dari beberapa batalion.
“Ini merupakan cerminan keseriusan anggota TNI dalam melakukan latihan. Presiden dan KSAD sudah berpesan agar latihan tempur ini dilaksanakan layaknya perang,” timpalnya. Adapun tujuan diadakannya latihan tempur yang merupakan latihan terbesar sepanjang sejarah itu, Gatot menuturkan, bahwa hal itu dilakukan untuk memberikan pesan kepada mereka yang memberikan kritikan serta meragukan kekuatan TNI selama ini.
Latihan tersebut juga merupakan pertanggungjawaban terhadap rakyat Indonesia. “Ini juga merupakan latihan yang merupakan persiapan untuk melaksanakan latihan gabungan yang akan dilaksanakan di wilayah Kalimantan akhir tahun ini,”paparnya. Informasinya, 4.300 prajurit yang akan mengikuti latihan tempur tersebut berasal dari beberapa batalion, seperti Batalion 409,Batalion 401,dan Batalion 414.
Pasukan khusus didaratkan pada 28 Agustus 2012, dilanjutkan dengan perebutan jembatan penghubung serta merebut Landasan Udara Gatot Soebroto. Karena di wilayah Lampung tidak terdapat wilayah yang dapat digunakan untuk melakukan serangan dengan senjata tajam, latihan total kemudian dilaksanakan di wilayah Omiba.
Latihan Perang TNI Didukung Jaringan 3G
Latihan perang TNI Angkatan Darat di kawasan Pusat Pelatihan Tempur (Puslatpur) TNI di Martapura, OKU Timur, pada 3 September 2012 didukung teknologi komunikasi canggih jaringan 3G berkecepatan tinggi hingga 7,2 Mbps.
Pihak yang mendukung jaringan 3G tersebut adalah PT Telkomsel Region Sumbagsel. Head of Sales and Customer Care Region Sumbagsel Division Syaiful Bachri mengatakan, hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh terhadap agenda khusus TNI di Puslatpur Martapura.Acara ini juga dihadiri Kasad Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo dan undangan dari seluruh perwakilan TNI seluruh Indonesia.
“Telkomsel mengoptimalisasi jaringan untuk menjamin kenyamanan dan kelancaran komunikasi, meliputi suara dan data para peserta dan tamu undangan yang hadir. Kami juga terus berupaya memastikan masyarakat di wilayah OKU, khususnya di wilayah Baruraja, dapat menikmati layanan komunikasi yang berkualitas melalui jaringan 3G berkecepatan tinggi di seluruh wilayah tersebut dengan produk Telkomsel,” ucap Syaiful kemarin.
Dia mengatakan, untuk menjamin kenyamanan berkomunikasi, baik layanan suara, SMS, maupun data,Telkomsel menyiapkan 180 BTS 2G dan 3G serta menempatkan satu unit compact mobile base transceiver (Combat) yang merupakan BTS bergerak yang ditempatkan di sekitar lokasi Puslatpur.
Sumber: SINDO
3 September 2012, Martapura: Latihan Antarkecabangan Tingkat Brigade yang dilakukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) di wilayah Objek Militer Baturaja (Omiba), Sumatera Selatan (Sumsel), merupakan latihan terbesar yang pernah dilakukan sepanjang sejarah TNI AD.
Latihan yang puncaknya akan dilaksanakan pada Senin (3/9) ini akan menggunakan seluruh persenjataan yang dimiliki TNI AD. Komandan Korps Pendidikan Latihan TNI AD Letnan Jenderal TNI Gatot Nuryanto mengatakan, persenjataan tua dan yang paling canggih, baik buatan dalam maupun luar negeri, akan digunakan dalam latihan tempur tersebut. “Kita punya senjata serbu, yang kualitasnya diakui oleh dunia yang dibuat oleh Pindad.
Pasukan khusus kita sudah menggunakannya, selanjutnya kita juga akan menggunakan senjata meriam kaliber 105, kaliber 76, dan mortir berkaliber 81,” ujar jenderal bintang tiga ini. Menurut dia, di samping persenjataan lengkap, anggota TNI AD juga didukung peralatan tempur canggih udara, seperti helikopter tempur Mi-35P, Mi-17,dan helikopter Bell serta helikopter Bolcow yang berjumlah sekitar 18 unit.
“Kita tidak akan main-main dengan latihan kali ini. Senjata yang digunakan adalah senjata tercanggih dan terbaru, peralatan tua dan yang terbaru. Bisa dikatakan dari persenjataan kakek-kakek sampai anak cucu digunakan dalam latihan tempur antar kecabangan ini,” ungkap Gatot. Dia menjelaskan, latihan tempur kali ini juga didukung oleh puluhan tank Scorpion, belasan panser Anoa serta peralatan tempur pendukung lainnya. selain itu, dalam pelatihan tempur antar kecabangan itu juga akan melibatkan 4.300 anggota TNI dari beberapa batalion.
“Ini merupakan cerminan keseriusan anggota TNI dalam melakukan latihan. Presiden dan KSAD sudah berpesan agar latihan tempur ini dilaksanakan layaknya perang,” timpalnya. Adapun tujuan diadakannya latihan tempur yang merupakan latihan terbesar sepanjang sejarah itu, Gatot menuturkan, bahwa hal itu dilakukan untuk memberikan pesan kepada mereka yang memberikan kritikan serta meragukan kekuatan TNI selama ini.
Latihan tersebut juga merupakan pertanggungjawaban terhadap rakyat Indonesia. “Ini juga merupakan latihan yang merupakan persiapan untuk melaksanakan latihan gabungan yang akan dilaksanakan di wilayah Kalimantan akhir tahun ini,”paparnya. Informasinya, 4.300 prajurit yang akan mengikuti latihan tempur tersebut berasal dari beberapa batalion, seperti Batalion 409,Batalion 401,dan Batalion 414.
Pasukan khusus didaratkan pada 28 Agustus 2012, dilanjutkan dengan perebutan jembatan penghubung serta merebut Landasan Udara Gatot Soebroto. Karena di wilayah Lampung tidak terdapat wilayah yang dapat digunakan untuk melakukan serangan dengan senjata tajam, latihan total kemudian dilaksanakan di wilayah Omiba.
Latihan Perang TNI Didukung Jaringan 3G
Latihan perang TNI Angkatan Darat di kawasan Pusat Pelatihan Tempur (Puslatpur) TNI di Martapura, OKU Timur, pada 3 September 2012 didukung teknologi komunikasi canggih jaringan 3G berkecepatan tinggi hingga 7,2 Mbps.
Pihak yang mendukung jaringan 3G tersebut adalah PT Telkomsel Region Sumbagsel. Head of Sales and Customer Care Region Sumbagsel Division Syaiful Bachri mengatakan, hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh terhadap agenda khusus TNI di Puslatpur Martapura.Acara ini juga dihadiri Kasad Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo dan undangan dari seluruh perwakilan TNI seluruh Indonesia.
“Telkomsel mengoptimalisasi jaringan untuk menjamin kenyamanan dan kelancaran komunikasi, meliputi suara dan data para peserta dan tamu undangan yang hadir. Kami juga terus berupaya memastikan masyarakat di wilayah OKU, khususnya di wilayah Baruraja, dapat menikmati layanan komunikasi yang berkualitas melalui jaringan 3G berkecepatan tinggi di seluruh wilayah tersebut dengan produk Telkomsel,” ucap Syaiful kemarin.
Dia mengatakan, untuk menjamin kenyamanan berkomunikasi, baik layanan suara, SMS, maupun data,Telkomsel menyiapkan 180 BTS 2G dan 3G serta menempatkan satu unit compact mobile base transceiver (Combat) yang merupakan BTS bergerak yang ditempatkan di sekitar lokasi Puslatpur.
Sumber: SINDO
Tuesday, August 28, 2012
Satuan Kostrad Dialihkomandokan ke Kodam VII/Wirabuana
28 Agustus 2012, Gorontalo: Untuk memperpendek rentang kendali dan administrasi, beberapa satuan Kostrad yang bermarkas di Gorontalo dialihkomandokan ke Komando Daerah Militer VII/Wirabuana. Juga dilaksanakan restrukturisasi satuan-satuan kewilayahan setempat.
Upacara alihkomando itu dipimpin Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Pramono Wibowo, di Markas Brigade Infantri 22/Ota Manasa, Tolongio, Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, Selasa.
Keharuan merebak di antara banyak personil yang satuannya dialihkomandokan; upacara ditandai pelepasan atribut di seragam lapangan mereka dan pemasangan atribut baru, serta serah terima duaja dan tunggul. Juga pelepasan dan penggantian baret di kepala mereka masing-masing.
Pramono menegaskan, "Tugas utama bela negara seluruh anggota TNI AD sebagai pelindung masyarakat harus tetap berjalan, dan menjaga keharmonisan seluruh satuan TNI AD maupun antar satuan khususnya yang ada di wilayah Sulawesi."
Ini upaya memperpendek rentang kendali, yang mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh anggotanya, yang sebelumnya mengalami kesulitan memperoleh fasilitas logistik.
Beberapa satuan yang dialihkomandokan itu Brigade Infantri 22/Ota Manasa dengan tiga batalion infantrinya, dan Batalion Artileri Medan.
Adapun batalion infantri di brigade infantri Kostrad di sana dialihkomandokan kepada komando kewilayahan. Demikian juga batalion infantri kewilayahan dialihkomandokan ke brigade infantri kostrad.
Di lingkungan Brigade Infantri 22/Ota Manasa, tiga batalion dialihkomandokan, yaitu Batalion Infantri 221/Motuliato, Batalion Infantri 222/Mootahangi, dan Batalion Infantri 223/Moea, yang dialih statuskan menjadi Batalion Infantri 715/Motuliato, Gorontalo.
Selain itu, pengalihan komando pengendalian diterapkan untuk Batalion Infantri 713/Satyatama dari Komando Resor Militer 131/Santiago kepada Brigade Infantri 22/Ota Manasa, dan Batalion Infantri 711/Raksatama dari Korem 132/Tadulako kepada Brigade Infantri 22/Ota Manasa.
Sumber: ANTARA News
Upacara alihkomando itu dipimpin Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Pramono Wibowo, di Markas Brigade Infantri 22/Ota Manasa, Tolongio, Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, Selasa.
Keharuan merebak di antara banyak personil yang satuannya dialihkomandokan; upacara ditandai pelepasan atribut di seragam lapangan mereka dan pemasangan atribut baru, serta serah terima duaja dan tunggul. Juga pelepasan dan penggantian baret di kepala mereka masing-masing.
Pramono menegaskan, "Tugas utama bela negara seluruh anggota TNI AD sebagai pelindung masyarakat harus tetap berjalan, dan menjaga keharmonisan seluruh satuan TNI AD maupun antar satuan khususnya yang ada di wilayah Sulawesi."
Ini upaya memperpendek rentang kendali, yang mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh anggotanya, yang sebelumnya mengalami kesulitan memperoleh fasilitas logistik.
Beberapa satuan yang dialihkomandokan itu Brigade Infantri 22/Ota Manasa dengan tiga batalion infantrinya, dan Batalion Artileri Medan.
Adapun batalion infantri di brigade infantri Kostrad di sana dialihkomandokan kepada komando kewilayahan. Demikian juga batalion infantri kewilayahan dialihkomandokan ke brigade infantri kostrad.
Di lingkungan Brigade Infantri 22/Ota Manasa, tiga batalion dialihkomandokan, yaitu Batalion Infantri 221/Motuliato, Batalion Infantri 222/Mootahangi, dan Batalion Infantri 223/Moea, yang dialih statuskan menjadi Batalion Infantri 715/Motuliato, Gorontalo.
Selain itu, pengalihan komando pengendalian diterapkan untuk Batalion Infantri 713/Satyatama dari Komando Resor Militer 131/Santiago kepada Brigade Infantri 22/Ota Manasa, dan Batalion Infantri 711/Raksatama dari Korem 132/Tadulako kepada Brigade Infantri 22/Ota Manasa.
Sumber: ANTARA News
Sunday, August 26, 2012
Brigif 9 Kostrad Merebut kembali Wilayah Sumatera yang Dikuasai Negasor
27 Agustus 2012, Medan: Brigif 9 Divif-2 Kostrad yang berkedudukan di Jawa Timur bergerak menuju wilayah Baturaja Sumatera Selatan yang saat ini dikuasai pasukan negasor. Musuh atau negasor dari wilayah Utara Laut Cina Selatan, telah berhasil memasuki wilayah NKRI khususnya di Pulau Sumatera dan menempatkan pasukannya di beberapa wilayah mulai dari Lampung, Palembang dan Baturaja. Kekuatan musuh yang berada di Baturaja di perkirakan 1 Batalyon Plus.
Brigif 9 melaksanakan Serpas(pergeseran pasukan) dengan menggunakan beberapa KRI Angkatan Laut dari Tanjung Perak Surabaya menuju ke pelabuhan Teluk Panjang, antara lain KRI Teluk Parigi 539, KRI Teluk Lampung 540, KRI Tanjung Kambani 971, KRI Banjarmasin 592, KRI Teluk Ambonia 503, dan KRI Teluk Menado 537. Selain gerakan pasukan melalui laut dan darat, Brigif 9 juga diperkuat oleh Batalyon Linud 501/18/2 yang akan diterjunkan untuk melakukan infiltrasi ke daerah musuh.
Setelah mendarat di Teluk Panjang pasukan bergerak dengan farmasi kolone taktis menggunakan jalur darat menuju lokasi yang sudah diduduki musuh. Selama perjalanan pasukan mendapat gangguan baik serangan maupun ranjau dari pihak musuh. Serangan dapat diatasi oleh pasukan Brigif 9 dan terus bergerak menuju lokasi musuh. Sedangkan gangguan ranjau dapat diatasi oleh Zeni Tempur (Zipur)-10/2 Kostrad.
Setelah mendekat ke daerah sasaran Pasukan infanteri terus bergerak dilindungi oleh Batalyon Armed 12/1/2 Kostrad dengan melakukan tembakan penyokong menggunakan Meriam 105 mm ke arah musuh.
Demikian juga Kavaleri 8/2 Kostrad, Arhanud (Pertahanan Artileri Udara) -2/2 Kostrad, dan Penerbad (Penerbangan Angkatan Darat) melakukan bantuan tembakan dari darat dan udara.
Dengan adanya serangan yang melihatkan kecabangan yang ada di TNI AD, musuh dapat dihancurkan. Setelah sasaran dapat direbut, dilanjutkan dengan Operasi Mobil Udara dengan menggunakan sejumlah helikopter untuk melakukan pengejaran terhadap musuh yang melarikan diri.
Demikian skenario Latihan Antar Kecabangan TNI AD 2012 di daerah Baturaja Sumatera. Pada tahun ini TNI Angkatan Darat akan mengadakan latihan Antar Kecabangan Tingkat Brigade TNI AD. Latihan akan dilaksanakan 26 Agustus sampai dengan 4 September di Pusat Latihan Tempur Kodiklat TNI AD Baturaja Sumatera Selatan.
Latihan terbesar TNI AD selama 20 tahun terakhir ini mengambil tema “Brigade Tim Pertempuran melaksanakan operasi Militer untuk perang dalam rangka menjaga keutuhan wilayah NKRI”. Prajurit yang akan dilibatkan dalam kegiatan latihan sebanyak 6000 personel dengan menggunakan Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) yang akan dicoba dalam medan yang sesungguhnnya.
Satuan yang terlibat dalam latihan Brigif 9 Kostrad terdiri atas: Kompi Mekanis- A Yonif 201/Damjaya, Yonkav-8/2K, Yonarmed-12/I/2/ Kostrad, Yonarhanudri-2/2/K, Yonzipur-9/2/K, Ki Pernika Yonhub/2/K, Kibekang Yonbekang 2/2/K, Kikes-A Yonkes 2/2/K, Tonpom Kipom Div 2/K, Kipal Divif-2/K, Detasemen Penerbangan TNI Angkatan Darat, Satuan tugas penerangan Dispenad, Direktorat hukum Angkatan Darat.
Adapun tujuan latihan meningkatkan kemampuan tempur perorangan menuju terciptanya kerjasama antar kecabangan dalam Brigade Tim Pertempuran (BTP) serta menyelenggarakan Operasi tempur yang didukung operasi Sandi Yudha Intelijen dan Teritorial.
Sumber: Dispenad
Subscribe to:
Posts (Atom)


















