Sunday, November 28, 2010

Lanud Abd Saleh Bisa Mendadak Ditutup


29 November 2010,Klojen -- Meski embusan abu pekat letusan Gunung Bromo mengarah ke wilayah Malang, penerbangan sipil dan militer di Lanud Abd Saleh Malang masih dinyatakan aman. Sejauh ini, daerah sekitar bandara dan Kota Malang hanya terimbas abu tipis.

Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Abd Saleh, Mayor Sus Wahyudi mengatakan, abu tipis ini masih belum membahayakan penerbangan. Jarak pandang sebelum mendarat, yakni pada ketinggian 12.000 m hingga 14.000 m masih belum terganggu.

“Penerbangan tetap lima flight sehari dan masih kategori aman. Pada ketinggian 12.000 m hingga 14.000 m tersebut, biasanya pesawat berputar di sekitar Pulau Sempu sebelum landing (mendarat). Pada ketinggian tersebut, pandangan masih terlihat jelas,” tegasnya dihubungi Surya, Minggu (28/11).

Meski demikian, pihaknya akan terus memantau dan mengikuti perkembangan dampak letusan Bromo tersebut. Penerbangan bisa dihentikan sewaktu-waktu jika abu pekat mulai merambah kawasan bandara.

“Selain mengganggu jarak pandang pilot, material abu pekat juga bisa merusak mesin pesawat,” ujarnya.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta pihak Lanud Abd Saleh Malang mengevaluasi kejernian udara akibat asap Gunung Bromo yang mulai mengarah ke Malang.

“Kami minta pihak bandara mengevaluasi kejernian udara agar tidak mengganggu penerbangan,” Kepala Bidang PVMBG, Gede Suantika, saat ditemui di Pos Pantau Gunung Bromo, Ngadisari, Sukapura, Probolinggo, Minggu (28/11) kepada detik.com.

Surya

Arsenal Korut di Perbatasan

(Grafis: Yonhap)

Prajurit Korsel Siap Siaga


29 November 2010 -- K-10 kendaraan pengangkut amunisi terlihat di pangkalan marinir Korea Selatan di pulau Yeonpyeong, Sabtu (27/11). Korea Utara menempatkan rudal permukaan-ke-permukaan di Laut Kuning diberitakan kantor berita Yonhap, Minggu (28/11). (Foto: Reuters)


Prajurit Korsel berkumpul di pangkalannya saat latma AS-Korsel di kota Malipo. (Foto: AP)




Prajurit Korea Selatan berkemas dipangkalan untuk mengikuti latihan militer di kota Malipo, Korsel, Senin (29/11). (Foto: AP)

Berita HanKam

Paspampres Latihan Penyelamatan Presiden dan VVIP

Pasukan Yonif 201/JY Kodam Jaya bersiaga saat latihan terpadu simulasi penanggulangan serangan teroris oleh Paspampres yang juga didukung satuan elit Den Bravo TNI AU, Den Jaka TNI AL di sebuah hotel berbintang di Jakarta, Kamis (25/11). Latihan tersebut dalam rangka persiapan pengamanan Asian Summit pada Januari 2011. (Foto: ANTARA/Fanny Octavianus/10)

29 Nopember 2010, Jakarta -- Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) menyatakan siap untuk mengamankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, serta para kepala negara sahabat yang akan mengikuti Forum Demokrasi Bali (Bali Demokracy Forum/BDF) di Denpasar, Bali, Desember 2010.

Kesiapan Paspampres diskenariokan dalam latihan terpadu penyelamatan reaksi cepat dan tanggap berdasarkan hitungan menit dari serangan teroris.

"Dalam waktu dekat, Indonesia akan menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Bali Democracy Forum. Karena itu, sebagai pasukan pengamanan presiden dan VVIP, kita harus siap," ujar Komandan Paspampres Mayjen TNI Waris, dalam amanatnya pada pembukaan Latihan PAM VVIP di Jakarta, Kamis (25/11) malam.

Sebanyak 450 personil Paspampres, Kodam Jaya, dan Polda Metro Jaya dilibatkan dalam Latihan Pengamanan VVIP Terpadu di Jakarta. Selain itu, 12 unit kendaraan taktis (rantis) serta robot pendeteksi bom dikerahkan dalam simulasi pengamanan cepat VVIP. Pada simulasi itu, Paspampres juga meledakan bom TNT low esplosive yang berhasil dilokalisir.

"Latihan ini untuk meningkatkan kemampuan pengamanan VVIP secara terpadu, baik secara taktis maupun medis ntuk mencapai kemampuan komando, kendali, komunikasi dan informasi secara terpadu di lapangan antara Paspampres dengan satuan-satuan perkuatannya," ujar Waris.

Danpaspampres menyatakan, pengamanan VVIP terpadu pada pelaksanaan kegiatan internasional seperti Bali Demoracy Forum maupun konfrensi tingkat tinggi (KTT) di Indonesia harus berhasil.

"Latihan sebagai dasar untuk mengukur kesiapan prajurit dalam melakukan pengamanan VVIP pada pertemuan para kepala negara di Bali," ujarnya.

Sebagai pasukan pengamanan VVIP yang mengamankan Presiden, Wakil Presiden dan para kepala negara dari negara-negara sahabat, tutur Waris, personil Paspampres harus memiliki kemampuan andal pada pengamanan VVIP. Untuk itu, personil Paspampres terus menyiapkan diri.

Ledakan bom

Pada latihan pengamanan VVIP terpadu, Paspampres meledakkan bom TNT low explosive di depan pintu lobi Hotel Borobudur, Jakarta. Sejumlah tamu hotel sempat terkejut dengan adanya ledakan tersebut, meskipun ledakan bom mampu dilokalisasi oleh seorang peraga dari prajurit Paspampres.

Skenario latihan dipusatkan di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (25/11) pukul 21.00 WIB. Dimulai dari iring-iringan tamu negara yang baru tiba Bandara Halim Perdanakusumah, dan langsung menuju tempat penyelenggaran Demoracy Forum di Hotel Borobudur. Iring-iringan mobil tamu negara secara bertahap memasuki areal hotel, dengan skenario penyelenggaran forum tidak mengusik para tamu yang menginap di hotel tersebut.

"Dalam situasi seperti ini, pengamanan VVIP bekerja ekstra keras mengawasi segala pergerakan tamu hotel yang dikhawatirkan menjadi bagian anggota teroris yang berupaya mengacaukan penyelenggaraan forum," ujar Komandan Grup C Paspampres yang menjadi Komandan Latihan Pengamanan VVIP Terpadu, Letkol TNI Sjahban Lahta.

Di tengah kesibukan pengamanan kedatangan para tamu negara dan keluar masuk tamu hotel, seorang anggota teroris yang menyamar menjadi tamu hotel, mencoba menyelundupkan bom yang dibungkus dalam paket. Paket yang berisi bom terdeteksi melalui x-ray yang sudah dipasang di pintu masuk hotel.

Dalam hitungan detik, personel Paspampres langsung mengambil bungkusan paket bom itu serta meletakkan di lantai. Paket tersebut langsung ditutupi selimut agar ledakannya tidak memakan korban.

Suara Karya

Radar Surveilance di Kutai Timur Siap Diserahkan ke Lanal

28 November 2010, Sangatta -- Departemen Pertahanan Indonesia telah menyelesaikan pembangunan radar berjenis Integrated Maritime Surveillance System di kawasan Tanjung Mangkaliat, Kecamatan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur. Radar ini ditargetkan sudah bisa berfungsi tahun 2011.

Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Kutim, Letkol Laut (P) Bambang Irawan, Minggu (28/11/2010), mengatakan proses pembangunan dimulai sejak tahun 2009 dan kini telah selesai. "Pembangunan sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu serahterima Dephan RI dengan TNI AL," katanya. Namun ia belum mengetahui jadwal serah terima dan biaya pembangunan.

Bambang menjelaskan, secara teknis radar surveillance dengan radius 80 kilometer tersebut akan terkoneksi dengan 6 radar lain. Diantaranya yang terletak di Gorontalo, Tarakan, Nunukan, dan Bitung. Bambang mengatakan pengembangan radar surveilance ini merupakan kerjasama dengan pemerintah Amerika Serikat.

Tentang deskripsi teknis radar tersebut, ia mengatakan radar akan bisa mendeteksi kapal yang masuk dalam radius radar. Bila kapal tersebut sudah terdata di database, maka akan bisa diperoleh data lebih dalam. Misalnya tentang asal dan tujuan kapal tersebut. Sedangkan bila kapal belum dikenali, maka bisa di-zoom untuk dikenali.

Tribun Kaltim

Menghapus Keangkeran Kopassus...


29 November 2010 -- Menyebut Markas Komando Pasukan Khusus Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat di Cijantung, Jakarta, bagi sebagian orang bisa membuat bulu kuduk ”merinding”. Selain catatan emas dalam sejarah Indonesia, sejak masih bernama Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat dan Komando Pasukan Sandi Yudha, ada juga kasus pelanggaran hak asasi manusia yang dituduhkan kepada anggota Kopassus pada masa Orde Baru.

Namun, Jumat (26/11), ada sedikit upaya mengendurkan kejerihan itu. Sejak pagi, lapangan di depan Markas Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat (Kopassus) diisi wartawan yang senam bersama prajurit. Acara dilanjutkan dengan menonton bagaimana penerjun Kopassus bisa mendarat dengan tepat di panggung empuk berukuran 2 meter x 2 meter. Lalu, dilanjutkan dengan mencoba senapan standar antiteror MP5 dengan peluru betulan.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigadir Jenderal Widjanarko sudah lama merencanakan acara itu. Salah satu tujuannya untuk membuat Kopassus tidak lagi ”seangker” sebelumnya. Tuan rumah, Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal TNI Lodewijk F Paulus menyambut rencana ini.

Lodewijk dengan santai menegur wartawan satu per satu dan melayani berbagai wawancara. Sesekali ia berkomentar. ”Wah, tak ikut senam, nih. Tak keringatan,” katanya kepada seorang wartawan yang terlambat.

Ia juga mendampingi beberapa wartawan yang dengan sukacita bergantian mencoba menembak dengan peluru tajam pada sasaran tembak di lapangan latih Kesatrian ini.

Komandan Satuan Antiteror 81 Letnan Kolonel (Inf) Nyoman Cantiaca bercerita, MP5 adalah senjata yang digunakan oleh hampir semua satuan antiteror di seluruh dunia. ”Soalnya praktis. Laras pendek. Jadi, cocok dengan ruangan kecil,” ujarnya.

Suasana santai terasa di Markas Komando Kopassus. Lodewijk juga dengan santai melayani berbagai wawancara, mulai dari fasilitas alat untuk Kopassus hingga masalah kerja sama dengan Amerika Serikat dan peranan anggota Kopassus dalam membantu penanganan bencana di Tanah Air.

Apa Kopassus membutuhkan senjata baru? ”Ada tiga kemampuan komando, para komando, dan penanggulangan teror. Tiga satuan ini mempunyai karakter yang berbeda. Nah, berkaitan dengan persenjataan itu, kita coba sesuaikan terus. Untuk para komando dukungan dari Pindad tidak masalah. Sandi Yudha dan Gultor yang coba kita pelihara terus sehingga level kita pada strata internasional terjaga,” kata Lodewijk.

Ia melanjutkan, ”Bulan depan ada 12 dari AS yang datang ke sini untuk bicarakan hal teknis, terkait pendidikan. Bulan depannya lagi, saya yang akan ke AS untuk membicarakan langkah pelaksanaannya.”

Di sela-sela percakapan, dia tidak henti-hentinya menawarkan makanan. ”Ini ada nasi goreng, kerupuk, kikil. Juga ada mi ayam,” ujar Lodewijk. Terasa tak ada keangkeran di tubuh Kopassus, seperti yang dikenal selama ini.

KOMPAS

Ada Pesawat Tempur Tak Dikenal Masuk Jakarta

Sukhoi TNI AU. (Foto: Dispenau)

29 November 2010 -- Selasa (16/11) lalu, tidak ada yang mencolok dari keseharian Jakarta. Setelah pagi-pagi diguyur hujan, siang hari langit tampak cerah. Namun, monitor di stasiun radar Tanjung Kait, Tangerang, mendeteksi ada sebuah titik yang meluncur cepat ke arah Jakarta. Identitasnya tak diketahui. Dari gerakan dan pengindraan, diduga itu pesawat tempur F-18.

Semula ”pesawat gelap” itu berada pada jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I. Indonesia mempunyai tiga jalur ALKI yang mengizinkan kapal dan pesawat asing lewat di dalam rentang lima mil. ALKI I adalah jalur dari selat Sunda, laut Jakarta, Selat Karimata, lalu ke utara masuk Laut China Selatan. ”Pesawat gelap” yang berada di jalur itu tiba-tiba membelok menuju Jakarta. Diperkirakan, dalam lima menit, pesawat itu sudah masuk Jakarta.

Itu berarti, lima menit lagi, berbagai tempat vital Jakarta ada dalam bahaya. Ibu kota negara selalu menjadi incaran pertama dalam serangan militer. Tidak hanya simbol politis, seperti Istana Negara, Gedung DPR/MPR yang bisa jadi sasaran, tetapi pusat perkantoran dan perbelanjaan sepanjang Jalan Sudirman dan MH Thamrin adalah sasaran empuk dengan efek besar.

”Scramble! Scramble!” kode untuk segera terbang membahana di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Situasi darurat. Semua tegang. Pilot pesawat Sukhoi yang siaga dalam waktu singkat lari ke pesawat dan memacu dua pesawat yang baru dibeli dari Rusia itu meninggalkan landasan. Mereka menuju titik untuk mencegat pesawat itu.

Informasi di radar, memperkirakan ”pesawat gelap” menuju ke arah selatan. Ada beberapa titik vital di kawasan selatan Jakarta. Namun, laporan intelijen memperkirakan, pesawat ini mengincar Stasiun Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Cibinong. Dalam era elektronik dan informasi ini, penghancuran jalur komunikasi ibarat memotong urat nadi.

Bertemu dengan pesawat gelap itu, pesawat Sukhoi milik TNI Angkatan Udara segera terbang di sisi kiri. Kode internasional digunakan. Jalur komunikasi dibuka. Tidak ada pihak yang ingin memulai insiden. ”This is Indonesia Airforce. You are in Indonesia territory, follow us,” kata pilot TNI AU melalui komunikasi radio.

Sayang, tidak ada respons. Untuk kedua kalinya, teguran itu dilakukan. Tujuannya agar terjadi komunikasi untuk memperjelas situasinya. Untuk bisa menggertak musuh, jumlah atau kekuatan tuan rumah memang harus lebih kuat. Dengan demikian, musuh menjadi gentar dan bersedia dihalau atau dipaksa mendarat. Kalau tidak, perang udara tidak lagi bisa dihindari.

Setelah dua kali ditegur, akhirnya pesawat gelap itu menggoyang-goyangkan sayapnya. Artinya, ia mengerti dan ikut panduan pesawat Indonesia. Setelah dikawal beberapa menit, akhirnya mendaratlah pesawat gelap ini di Lanud Halim Perdana Kusuma. Turun dari kokpit ”pesawat gelap” itu, Komandan Skuadron Udara 11 Sukhoi Letnan Kolonel (Pnb) Tonny Haryono dan Kepala Staf Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsekal Pertama JFP Sitompul. ”Kami jadi bulsit yang baik, disuruh turun langsung ikut,” ungkap Sitompul, berseloroh.

Ini memang latihan. Pada kenyataannya, tentu banyak hal yang menjadi lebih kompleks. Pesawat bulsit alias penimbul situasi juga lebih dari satu, dan menyerang beberapa target pada saat bersamaan. Pernyataan perang juga harus dinyatakan oleh negara penyerang, sebelum serangan dilakukan.

Panglima Kohanudnas Marsekal Muda Eddy Suyanto menjelaskan, latihan yang berjudul ”Tutuka XXXIV 2010” ini bertujuan untuk menguji pertahanan udara di wilayah ibu kota. Karena itu, mulai dari prosedur, peralatan, hingga personel juga dievaluasi. ”Direktur latihan dari Komando Pendidikan dan Latihan Mabes TNI. Kohanudnas jadi pelaksana,” kata mantan pilot pesawat tempur F-5 ini.

Menjaga wilayah udara kita tidaklah sekadar mengandalkan pesawat tempur belaka. Karena itu, dalam latihan ini juga melibatkan TNI Angkatan Darat dari Detasemen Rudal 003 dan Batalyon Artileri Pertahanan Udara 10, serta kapal perang KRI Abdul Halim Perdana Kusuma yang dilengkapi anti-serangan udara, berupa peluru kendali permukaan ke udara, Harpoon yang berpandu inframerah dengan jangkauan efektif empat kilometer. KRI bernomor lambung 335 juga dilengkapi dengan radar LW-03 2-D air search.

Di Cibinong disiapkan pertahanan udara pasif, yang juga melibatkan masyarakat dan aparat setempat. Dibuat skenario, seandaianya instalasi vital di SKSD Cibinong diserang, bagaimana dengan evakuasi dan penanganan korban.

Eddy Suyanto mengatakan, tujuan dilakukannya latihan di Jakarta memang untuk mempersiapkan kalau ada serangan.

KOMPAS