Monday, April 26, 2010

TNI-AD Akan Tambah Alutsista Baru


27 April 2010, Jakarta -- TNI Angkatan Darat memprioritaskan pengadaan alat utama sistem senjata baru dari penambahan anggaran APBN-P 2010.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI George Touisutta menjawab ANTARA di Jakarta, Selasa mengatakan, penambahan alat utama sistem senjata baru terutama diperuntukan bagi satuan kavaleri.

"Alat utama sistem senjata baru itu antara lain kendaraan tempur dan sejumlah meriam," katanya menambahkan.

Ia menegaskan, pihaknya akan memprioritaskan pengadaan kendaraan tempur dari dalam negeri seperti PT Pindad.

"Untuk kendaraan tempur yang sudah dapat kita produksi, maka kita pakai dari dalam negeri," ujarnya.

Sedangkan untuk alat utama sistem senjata yang diadakan dari luar negeri, pihaknya mensyaratkan alih teknologi.

Tentang berapa unit yang akan diadakan, ia menyatakan, pihaknya masih menghitung dan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

Pada APBN-Perubahan 2010 TNI mendapat alokasi tambahan anggaran sebasar Rp 350 miliar. Alokasi anggaran itu, secara umum belum dapat memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata TNI secara memadai.

ANTARA News

Satuan Kapal Cepat Iran Latihan Keroyok Kapal Perang

Kapal patroli Garda Revolusi Iran dipersenjatai roket multi laras 107mm (11x) dan sepucuk senapan mesin 12,7mm.


Posisi menyerang RIB dipersenjatai roket multi laras 107mm (11x).

Kapal cepat menembakan roket 107mm.





Sasaran latihan kapal angkut amphibi kelas Polnocny.

Kolonel Wurjanto Jadi Komandan Menbanpur-1 Marinir

Komandan Pasmar-1 Brigjen TNI (Mar) I Wayan Mendra menyerahkan Dhuaja Resimen Bantuan Tempur-1 Marinir kepada Kolonel Marinir Wurjanto. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

26 April 2010, Surabaya -- Komandan Pasmar-1 Brigadir Jenderal TNI (Mar) I Wayan Mendra melantik Kolonel Marinir Wurjanto menjadi Komandan Resimen Bantuan Tempur-1 (Menbanpur-1) Marinir dalam upacara di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Senin.

Mantan Danpusdik Banpur Kodikmar tersebut dilantik sebagai Komandan Resimen Bantuan Tempur-1 Marinir menggantikan pejabat lama Kolonel Marinir Suhono yang beberapa hari lalu telah dilantik sebagai Asisten Intelijen Komandan Korps Marinir.

Dalam amanatnya, orang nomor satu di jajaran Pasmar-1 tersebut mengatakan serah terima jabatan dalam suatu organisasi merupakan kesinambungan kepemimpinan dan bagian penting dari pembinaan kesatuan, dalam rangka mendinamisasikan organisasi agar senantiasa responsif dan antisipatif.

Menurut Pati Bintang Satu itu, Resimen Bantuan Tempur-1 Marinir merupakan Komando Pelaksana Pasmar-1 yang mempunyai tugas pokok membina dan menyediakan kekuatan serta kemampuan unsur-unsur di bawahnya dalam rangka pelaksanaan operasi pendaratan amfibi serta operasi lainnya.

"Dengan tugas pokok tersebut, Menbanpur-1 Marinir memiliki tugas yang sangat berat karena terdiri dari enam kesatuan yang kemampuan profesionalnya tidak bisa digabung satu dengan yang lainnya, karena itu dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas, inovasi serta dedikasi yang tinggi," katanya.

Menghadapi masa depan yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
katanya. setiap prajurit Menbanpur-1 Marinir dituntut lebih mawas diri dan antisipatif dengan cara meningkatkan profesionalisme dan kesiapan tempurnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut para pejabat Korps Marinir Surabaya, pejabat TNI dan Polri wilayah Surabaya, serta undangan lainnya.

Komandan Pasmar-1 Brigjen TNI (Mar) I Wayan Mendra melakukan salam komando dengan Kolonel Marinir Suhono dan Kolonel Marinir Wurjanto saat serah terima jabatan Komandan Resimen Bantuan Tempur-1 Marinir. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Kolonel Marinir Wurjanto sebelumnya menjabat sebagai Komandan Pusdik Banpur Kodikmar, sedangkan Kolonel Marinir Suhono telah dilantik sebagai Asisten Intelijen Komandan Korps Marinir beberapa hari yang lalu. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Komandan Pasmar-1 Brigjen TNI (Mar) I Wayan Mendra melepas pangkat Komando dan menggantinya dengan pangkat Staf kepada Kolonel Marinir Suhono. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Komandan Pasmar-1 Brigjen TNI (Mar) I Wayan Mendra memasang pangkat Komando kepada Kolonel Marinir Wurjanto. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

Komandan Pasmar-1 Brigjen TNI (Mar) I Wayan Mendra melakukan pemeriksaan pasukan. (Foto: Serda Mar Kuwadi)

ANTARA Jawa Timur

Pengajuan Pengganti OV-10 Bronco Diproses Ulang


27 April 2010, Jakarta -- Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Iman Sufaat menyatakan, pengajuan penggantian pesawat tempur latih jenis OV-10 Bronco ke Mabes TNI sudah diproses ulang. Karena, pengajuan penggantian ada tahap pertama tidak lengkap dan memenuhi aturan.

"Pengganti OV-10 itu kita sudah proses ulang, dari awal lagi. Pengajuan yang pertama tidak lengkap dan terpaksa harus diproses dari awal sampai kepada proses penawaran harga. Pada hari Jumat (23/4), kita sudah ajukan ke Mabes TNI," ujar KSAU kepada Suara Karya di sela-sela penutupan Musyawarah Nasional (Munas) ke-9 Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) di Halim Perdanakusuma Jakarta, Minggu (25/4).

Ia mengharapkan, pembelian pesawat tempur latih Super Tucano dari Brazil sebagai pengganti OV-10 Bronco segera diproses Mabes TNI dan dapat direalisasikan dalam tahun ini. "Pesawat OV-10 sejak 2007 sudah tidak lagi beroperasi. Dan sekarang ini kita sangat memerlukan adanya pengganti sejenis," ucap KSAU.

Pesawat Super Tucano, menurut Imam, memenuhi kriteria kebutuhan kekuatan TNI AU untuk meningkatkan kemampuan latih personel TNI AU dalam mempertahankan kedaulatan udara RI. Pesawat ini memenuhi kriteria, yakni pesawat taktis ringan, counter insurgency, remote air control, pengamatan dari udara bersenjata.

Dia mengatakan, TNI AU mengajukan untuk membeli 16 unit Super Tucano. Rencana pengguannya secara bertahap, yakni empat masuk ke perawatan, empat untuk latihan, delapan untuk trouble.

"Artinya, pemakaian tidak sekaligus. Ada yang dipakai dalam sehari dua-tiga kali, dan ada masuk dalam perawatan. Jadi bentuknya seperti peramida," katanya.

Sembilan Hercules

Selain mengajukan penggantian OV-10 Bronco, Imam mengatakan, TNI AU akan mengajukan penggantian sembilan jenis pesawat angkut, Hercules type B yang kini telah berusia 45 tahun.

Pemberitahuan dari pihak produsen Amerika Serikat baru-baru ini, pesawat angkut Type B yang dimiliki TNI AU itu hanya bisa bertahan lima tahun lagi.

"Hercules kita yang tipe B umurnya sudah 45 tahun. Jadi, menurut Tim dari Amerika, ini hanya bisa bertahan hanya lima tahun lagi. Jadi, air frame-nya hanya sampai umur 50 tahun," ujarnya.

Ia mengatakan, AS sudah tidak mau lagi bertanggungjawab atas kerusakan maupun kejadian yang menimpa Hercules Type B yang dimiliki TNI, apabila masih tetap dipergunakan. Material dari pesawat itu telah masuk kategori tua dan tidak mampu lagi untuk dipergunakan sebagai pesawat angkut.

"Jadi mereka (AS) tidak akan bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa. Kalau lebih dari itu, material dari pesawat itu sudah gak kuat. Ya. Jadi, ke depan memang kita rencanakan penggantinya," ujar KSAU. Pesawat sejenis yang akan menggantikan Hercules Type B milik TNI AU, yakni Hercules Type A ataupun type C buatan AS. Pesawat ini yang masih kategori pesawat angkut terbaru. Hal ini pun telah dimasukan ke dalam Renstra TNI AU 2010.

"Dalam program renstra sudah harus diganti. Hanya sekarang masalahnya, itu mahal sekali. Kita berencana mengadakan penambahan sembilan Hercules," ujar Imam.

SUARA KARYA Online

Kesiapan Perang RI Mengkhawatirkan


27 April 2010, Jakarta -- Cadangan energi bahan bakar minyak (BBM) dan nuklir yang dimiliki Indonesia masih dalam kategori mengkhawatirkan, bila negara dalam situasi perang. Ketersediaan energi hanya mampu mencukupi sampai 20 hari.

"Jika Indonesia menghadapi peperangan, cadangan energi dalam negeri hanya cukup untuk 20 hari pertempuran," kata Kepala Subdit Evaluasi Pelaksana kebijakan Dirjen Strahan Kementerian Pertahanan, Kol TNI Sigit Priyono dalam diskusi di Kantor Kemhan Jakarta, Senin (26/4).

Cadangan energi yang hanya mampu bertahan 20 hari ini bertolak belakang dengan persepsi bahwa Indonesia kaya sumber daya alam. Bahkan sebaliknya, Singapura sebagai negara yang tidak memiliki kekayaan alam memiliki ketahanan cadangan energi 120 hari.

Padahal, menurut Sigit, energi BBM dan nuklir merupakan pendukung utama dalam pertempuran. Selain masalah energi, TNI juga belum memiliki kekuatan yang merata. Konsentrasi pasukan masih terpusat di Pulau Jawa. Bahkan untuk di Indonesia Timur, seperti di sebagian Maluku, katanya, ada wilayah yang seolah-olah kosong melompong dan tidak tercover oleh radar TNI AU. "Sementara ini kita menyiasatinya dengan radar dari angkatan lain dan juga bantuan radar sipil," tandasnya.

Paradigma Pertahanan

Sementara itu, Pengamat politik dan pertahanan dari Center for Strategic International Studies (CSIS), Edy Prasetyono, mengatakan, strategi pertahanan nasional harus segera diubah. Dia menyayangkan strategi pertahanan masih didominasi paradigma pertahanan tradisional yang berfokus pada daratan. "Indonesia harus mengubah cara berpikir," katanya.

Edy mengusulkan pentingnya peran strategi pertahanan di bidang maritim. Strategi Ini salah satu aspek kekuatan pertahanan minimum yang harus dimiliki Indonesia. "Karena lingkungan geostrategis dan keamanan baru berbasis maritim," ujarnya.

Hal ini penting, kata dia, untuk melindungi aset-aset strategis. Setiap tahun Indonesia mengalami kerugian puluhan miliar dolar karena lemahnya pengawasan laut dan udara. Selain itu, perkembangan perdagangan internasional makin menunjukkan pentingnya kawasan laut untuk jasa pengangkutan. "Keamanan jalur perdagangan dan kontrol barang yang diangkut telah melahirkan International Ship and Port Security dan Proliferation of Security Initiative," kata Edy.

Menurut Edy, perkembangan strategi pertahanan di kawasan Asia Pasifik lebih banyak dibentuk oleh aspek laut dan udara. "Ini terlihat dari prioritas pengembangan kekuatan pertahanan mereka yang menitikberatkan pada pengembangan kekuatan laut dan udara," ujarnya.

Cina misalnya, membelanjakan 56 miliar dolar AS dan Jepang 45 miliar dolar AS untuk pertahanan. Adapun negara-negara Asia Pasifik mengeluarkan 164,4 miliar dolar AS untuk pertahanan.

Yang menarik lagi, kata Edy, pengadaan persenjataan modern sekarang memiliki dua karakteristik, yaitu karakter ofensif dan dapat dipakai untuk melakukan proyeksi kekuatan ke luar batas nasional.

Proyeksi ke luar batas wilayah nasional sesuai dengan tuntutan geostrategis Asia Pasifik yang terbuka dan mensyaratkan senjata mobile dan fleksibel sesuai dengan sifat matra laut dan udara.

"Perang akan berlangsung cepat dengan fokus pada kontrol atau penghancuran aset-aset strategis. Bahkan perang menguasai wilayah pun, yang sekarang makin tidak populer, harus didahului oleh pengerahan kekuatan laut dan udara," kata Edy.

SUARA KARYA Online

Survei UI Sebut Malaysia Sebagai Ancaman Utama Indonesia


26 April 2010, Jakarta -- Mayoritas mahasiswa FISIP Universitas Indonesia yang mengikuti survei tentang pengetahuan dan persepsi mereka terhadap komunitas Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara menganggap Malaysia sebagai ancaman keamanan utama Indonesia. Dari 250 mahasiswa berusia 17-23 tahun yang mengikuti survei diselenggarakan dosen senior FISIP UI, Edy Prasetyono, PhD pada Februari dan Maret 2010, sebanyak 120 orang atau 48 persen memilih Malaysia menjadi ancaman keamanan utama Indonesia.

Hasil survei diungkapkan Edy Prasetyono yang juga Wakil Dekan FISIP Universitas Indonesia (UI) dalam seminar tentang 'Pengetahuan dan Persepsi Mahasiswa terhadap Komunitas ASEAN 2015' di kampus UI Depok, Senin. Selain Malaysia, empat negara lainnya yang dipersepsi mahasiswa FISIP UI sebagai ancaman keamanan utama bagi Indonesia adalah Amerika Serikat (27,6 persen), Cina (12 persen), Australia dan Singapura (masing-masing 3,6 persen).

Sebanyak 69,6 persen responden survei itu juga menilai Malaysia sebagai pesaing Indonesia di era globalisasi di samping Cina. Hasil survei itu menegaskan bahwa Malaysia dipandang banyak responden sebagai negara yang 'harus diantisipasi Indonesia' dalam konteks persaingan global, kata Edy Prasetyono, dalam seminar yang juga menghadirkan Peneliti Lembaga Studi Strategis Indonesia Bantarto Bandoro MA itu.

Selain itu Malaysia termasuk salah satu dari 10 negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang paling dikenal mayoritas mahasiswa FISIP UI. ASEAN beranggotakan Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Singapura, Myanmar, Vietnam, Kamboja, dan Laos. Sebanyak 95,6 persen responden menempatkan Malaysia sebagai negara anggota ASEAN yang paling dikenal disusul Singapura (93,2 persen) dan Thailand (51,6 persen).

Republika

Pakistan Terima AWACS Kedua Dari Swedia


26 April 2010 -- Pakistan menerima pesawat kedua jenis Early Warning and Control System Saab-2000 dari empat pesawat yang dipesan dari Swedia, guna meningkatkan kemampuan mengamati wilayah udara India.

Pesawat mendarat di pangkalan militer Sabtu (24/4) dan segera dioperasikan AU Pakistan.

Dua pesawat Saab-2000 lainnya dilengkapi sistem radar Erieye diharapkan diterima AU Pakistan akhir tahun ini dari Swedia.

Harian Dawn mengutip pernyataan seorang perwira AU Pakistan, sistem radar Erieye yang dipasang di pesawat mampu mendeteksi lalu lintas pesawat militer AU India di pangkalannya dekat Pakistan, dapat mengidentifikasi jenis pesawat, sistem senjata serta arah penerbangan.

Pakistan sedang melakukan negosiasi dengan Cina guna membeli empat pesawat Warning and Control dan diharapkan dioperasikan 2012.

Brahmand/@info-hankam